
SEMARANG, suaramerdeka.com - Terbatasnya lahan dan kualitas sumber daya manusia yang masih belum memadai, membuat kawasan industri di Jawa Tengah belum mampu menampung relokasi investor asing. Padahal pasca bencana di Jepang dan Thailand tahun lalu, investor mulai melirik Jateng untuk mengalihkan usahanya.
Koordinator Himpunan Kawasan Industri Indonesia Jateng Muh Jayadi mengatakan, hampir seluruh kawasan industri di Indonesia diserbu investor yang akan menanamkan modalnya, sehingga tak heran bila beberapa kawasan industri kewalahan menyediakan lahan siap bangun untuk mendirikan perusahaan industri.
Begitu pula dengan kawasan industri di provinsi ini, investor yang sudah melakukan penjajakan memilih menanamkan modalnya ke daerah lain yakni Jabodetabek karena tak ada lahan. Beberapa investor di bidang garmen bahkan sudah melakukan penjajakan. Mereka membutuhkan lahan sekitar 20 hektare.
"Sebenarnya investor dari Jepang dan Thailand yang ingin relokasi ke Jateng cukup banyak, tapi kita belum siap. Untuk lahan seluas 20 hektare saja kita tidak punya. Apalagi mereka minta ditampung dalam satu klaster, di sini tidak bisa," ujarnya.
Tidak hanya relokasi investasi garmen saja, investasi pabrik sepatu juga berpotensi masuk ke Jateng. Pabrik sepatu merek Adidas misalnya, ingin seluruh proses pembuatannya disatukan di Jawa Tengah. Produksi pabrik ini rencananya akan dipasok ke pasar Asia Pasifik.
Menurut Jayadi, lahan yang terbatas sangat menyulitkan investor. Seperti Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang mislanya, hanya tersedia sekitar 10 hektare. Begitu juga kawasan industri lain seperti Kawasan Industri Candi. "Di Kawasan Industri Candi ada lahan, tapi belum siap. Di Bukit Semarang Baru (BSB) Ngaliyan juga ada, tapi masih dalam pembenahan. Namun keduanya belum memiliki instalasi pengolahan air limbah yang terpadu," tuturnya.
Tak hanya lahan, ketersediaan sumber daya manusia yang terampil juga menjadi kendala bagi Jateng. Pasalnya jumlah tenaga kerja yang berkualitas jumlahnya belum mencukupi kebutuhan yang diminta investor. "Terutama tenaga mesin jahit yang masih sedikit," katanya.
( Fani Ayudea / CN27 / JBSM )