
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Banyak hal yang menarik perhatian Nanang Rakhmat Hidayat MSn salah satu mitra kerja Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM yang kini aktif terlibat dalam upaya penguatan dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila melalui penelitian tentang lambang Garuda Pancasila. Tim peneliti dan kajian PSP UGM tertarik dengan upaya dan keunikan yang dilakukan olehnya sebagai seniman dan sekaligus peneliti Garuda Pancasila.
Belum lama ini, tim peneliti dan kajian PSP UGM Hastangka dan Diasma Sandi Swandaru mengunjungi serta melakukan wawancara eksklusif dengan Nanang pendiri Rumah Garuda, sekaligus dosen Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Melalui wawancara, PSP UGM berharap mampu menggali lebih dalam tentang sejarah dan pemaknaan lambang Garuda Pancasila, yang kini mulai terlupakan dan terlepas dari pengamatan masyarakat.
Dari wawancara itu, Nanang mengaku mendirikan Rumah Garuda karena merasa gelisah sebab dari sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tidak satu pun menceritakan tentang proses terbentuknya lambang Garuda Pancasila. Merasa prihatin akan kondisi tersebut, Dia lantas bertekad mendirikan Rumah Garuda pada tanggal 17 Agustus 2011 di Jalan Bantul km 7.5, Dukuh Pucung, Krantil RT 55, Bantul. Dia menggagas Rumah Garuda sebagai wujud kepedulian dan upaya pelestarian lambang Garuda Pancasila yang selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari kalangan sivitas akademika dan pemerintah.
Dia pun merelakan rumah pribadinya digunakan sebagai Rumah Garuda dan Dia rela untuk mengontrak rumah di daerah lain. Di Rumah Garuda itu dapat dijumpai sejumlah koleksi burung garuda dari berbagai wilayah di Indonesia. Hingga kini, tercatat 300-an foto garuda terpampang, 100 berhasil dicetak, 7 dalam bentuk tiga dimensi, 100 relief, dan 50 dalam bentuk alumunium.
Menurut penuturannya, Dia mengoleksi burung garuda sejak tahun 2003 melalui foto. Sebanyak 70 persen foto-foto diperoleh di Yogyakarta, sedangkan 30 persen lainnya didapatkan dari kota lain dan kiriman serta oleh-oleh garuda dari patner dan teman-temannya. ''Saya menilai hampir seluruh aspek makna garuda berubah, misalnya dari segi fungsi, kadang hanya dipergunakan sebagai aksesoris,'' tuturnya.
Selain itu, Dia juga menemukan garuda dalam lambang berbentuk aluminum banyak ditemukan di pasar loak. Kemudian, dari segi bentuk banyak lagi yang ditemukan di jalan-jalan dan kampung-kampung dengan berbagai macam tipe, antara lain garuda dipergunakan sebagai penanda waktu, garuda sebagai penanda batas desa dan daerah, garuda sebagai penanda kebanggaan dan kecintaan pada bangsa dan negara. ''Aspek spiritual, sekarang ini malah tidak terlalu nampak,'' tambahnya.
( Bambang Unjianto / CN34 / JBSM )