
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Belum lama ini politik dunia internasional kembali memanas setelah 27 Desember 2011 lalu Pemerintah Iran mengeluarkan ancaman untuk menutup seluruh akses laut di Selat Hormuz. Ancaman tersebut akan dilaksanakan jika sanksi internasional untuk mengembargo ekspor minyak Iran benar-benar dijatuhkan.
Menurut Pakar Kajian Timut Tengah dan Politik Luar Negeri UGM Dr Siti Muti’ah Setiawati MA, ancaman penutupan Selat Hormuz merupakan strategi defensif yang dilakukan Iran dalam menghadapi sejumlah tekanan dari negara Barat. Salah satunya adalah upaya Amerika memperlemah rencana program nuklir Iran.
Amerika meyakini, Iran mengembangkan program nuklir untuk senjata pemusnah massal. Namun, hal itu dibantah Iran yang menyatakan bahwa program nuklir dikembangkan untuk tujuan damai. "Iran akan menutup Selat Hormuz hanyalah provokasi karena selalu merasa dipojokkan terkait pengembangan program nuklirnya," katanya, di Kampus Fisipol UGM.
Dikemukakan, Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke seluruh dunia. Hampir sepertiga pasokan minyak dunia yang dibawa melalui jalan laut melalui selat itu. Penutupan rute tersebut akan menimbulkan konsekuiensi serius bagi perekonomian dunia.
"Apabila Iran benar-benar menutup selat ini maka perekonomian dunia akan terganggu karena akan mengurangi pasokan minyak mentah dan gas alam cair," ujarnya.
Dituturkan, apabila ancaman tersebut dijalankan sangat dimungkinkan akan terjadi perang antara Iran dan Amerika. Amerika akan berupaya mengamankan jalur minyak dunia. "Kalau terjadi perang saya rasa Iran bisa bertahan dari serangan Amerika karena Iran adalah negara yang sangat mandiri dan perekonomian yang sangat mapan," katanya.
Ditambahkan, Indonesia sebagai negara mitra Iran dalam hal ekspor impor minyak mentah tentunya juga akan terkena imbas jika meletus perang Iran-Amerika. "Jika benar terjadi perang maka kegiatan ekspor impor minyak dengan Iran akan ikut terhambat," tambahnya.
( Bambang Unjianto / CN26 / JBSM )