
BUNUH DIRI: Tim SAR Kabupaten Wonogiri, menaikkan mayat korban bunuh diri di belik (kolam sumber air) Lingkungan Bahuresan Kelurahan Giritirto Kecamatan Wonogiri, ke atas mobil patroli polisi. (suaramerdeka.com/ Bambang Purnomo)
WONOGIRI, suaramerdeka.com - Suryanto (18) warga Dusun Sedran Desa Sambirejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, ditemukan tewas gantung diri di belakang rumah. Kematian pemuda lajang ini, menjadi tragedi kelima kasus bunuh diri di Kabupaten Wonogiri, dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir atau di awal Januari 2012 ini.
Kelima penduduk Wonogiri yang bunuh diri itu, empat di antaranya tewas dengan cara gantung diri, dan seorang lainnya menceburkan diri ke belik (kolam sumber air).
Korban bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke belik, dilakukan oleh Nenek Riyem (71) warga Lingkungan Bahuresan Kelurahan Giritirto Kecamatan Wonogiri Kota.
Kemudian korban gantung diri lainnya, dialami oleh Dwi Atmoko (21) bujangan di Dusun Cempaka Desa Sindukarto Kecamatan Eromoko, Nenek Kasiyem (80) warga di Dusun Plawon Desa Gunturharjo Kecamatan Paranggupito dan penyandang tuna wicara Niken Elsa Hapsari (22) di Desa Miri Kecamatan Kismantoro.
Pemicu bunuh diri para pelaku didominasi stress dan putus asa oleh derita sakitnya yang menahun. Penyebab lainnya, karena korban mengalami depresi berat dan kemudian frustasi karena keinginannya tidak segera tercapai. "Kalau alasannya ekonomi, itu sangat kecil," tegas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten Wonogiri Drs Edy Martono MM.
Menurut Edy, laporan kasus bunuh diri selama tahun 2011 yang masuk jumlahnya mencapai sebanyak 9 orang. Dari jumlah itu, enam korban bunuh diri dengan cara gantung diri. Tiga dari 9 korban bunuh diri, terdata berusia 16 sampai 30 tahun. Kemudian yang berusia 31-50 tahun ada sebanyak satu orang, yang berusia 51-75 tahun sebanyak 4 orang dan di atas 76 tahun satu orang.
Menyikapi tingginya korban bunuh diri ini, peran keluarga, tokoh masyarakat dan tokoh agama, hendaknya dapat ditingkatkan. Utamanya dalam memberikan penyuluhan, pembinaan dan pembimbingan mental spiritual keagamaan.
( Bambang Purnomo / CN33 / JBSM )