
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Cara memahami terorisme yang menekankan sifat, karakter, dan ideologi pelaku terorisme perlu dilengkapi dengan cara lain. Salah satu cara yang bisa dipakai untuk melengkapi hal tersebut yaitu dengan perspektif relasional.
Artinya, kita perlu memperhatikan beberapa proses sosial yang melatari penggunaan aksi teror sebagai strategi. Contohnya, dalam kasus bom di Masjid Polres Cirebon, selain kita memperhatikan siapa pelakunya, sifat dan latar belakang ideologinya, kita juga perlu mempertanyakan hal lain misalnya bagaimana bahan peledak sampai ke tangan pelaku bom bunuh diri dan puluhan temannya.
''Selain itu apa hubungan antara pelaku bom bunuh diri dengan polisi sebelumnya dalam berbagai aksi radikal yang bukan aksi bom seperti terorisme di Cirebon,'' papar peneliti Institute of International Studies (IIS) Jurusan Hubungan Internasional (HI) UGM Drs Samsu Rizal Panggabean MSc.
Diakuinya, fenomena menarik dari terorisme di tahun 2011 lalu yaitu adanya taktik baru dan generasi pelaku yang baru. Taktik baru seperti penggunaan bom buku di kompleks Radio 68H Jakarta. Sedangkan generasi baru yaitu para pelaku bukan lagi lulusan tempat-tempat konflik internasional seperti Afganistan, Filipina Selatan atau Thailand Selatan. ''Mereka adalah generasi baru lulusan pengajian radikal yang belajar keterampilan membuat bom lewat internet, bukan dalam konteks perang,'' imbuhnya.
Di tempat sama pengamat dari IIS lainnya Eric Hiarej MPhil PhD mengatakan, ada peningkatan jumlah aksi terorisme di tahun 2011 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. ''Yang menarik adalah sepanjang tahun 2011, target utama dari berbagai aksi teror kebanyakan diarahkan ke polisi serta rumah ibadah,'' paparnya.
Baik Rizal maupun Eric juga sepakat agar peran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ke depan bisa ditingkatkan lagi. Sayangnya, sejauh ini peran BNPT masih belum optimal terbukti dengan minimnya anggaran yang dikucurkan. Pemerintah lebih banyak terfokus pada peningkatan peran Densus 88.
( Bambang Unjianto / CN34 / JBSM )