
JAKARTA,suaramerdeka.com - Data mengenai indikasi aliran dana dari perusahaan terhadap aparat keamanan telah dikantongi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mesuji. Data itu akan ditelisik keterkaitannya dengan kebijakan pengamanan yang dinilai tidak imparsialitas saat mengamankan sengketa lahan antara perusahaan dengan warga.
"Kami sudah menemukan data. Tapi, maaf tidak bisa kami buka sekarang," kata Juru Bicara TGPF Mesuji, Indriaswati Dyah Saptaningrum sembari menambagkan pihaknya mendapatkan data bahwa aparat keamanan di Mesuji, Lampung, menerima dana dari PT Silva Inhutani Lampung (SIL) dan masih diklarifikasi kebenarannya.
Berdasarkan data yang diterima TGPF, ada perbedaan jumlah personel yang diterjunkan untuk mengamankan sengketa lahan di sana setiap bulannya, tak hanya sebatas anggota namun hingga ke pemimpin. Hal itulah yang tengah diselidiki TGPF Mesuji pimpinan Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Denny Indrayana, apakah ada yang mempengaruhinya.
Selain itu, adanya keterkaitan organisasi yang melegalisasi ihwal aliran dana terhadap aparat juga tak luput dari penyelidikan. Kendati ditemukan fakta pendukung, pihaknya masih memverifikasi di lapangan. "Fakta itu kami susun tidak cuma satu. Kami menggunakan parameter sendiri," jelas Direktur Elsam itu.
Tim Pencari Fakta (TPF) Mesuji yang dibentuk DPR juga menemukan dugaan aliran dana terhadap aparat. Anggota TPF Mesuji Sarifuddin Sudding menyatakan, pihaknya akan mencari tahu apakah kekerasan yang diduga melibatkan aparat ada kaitannya dengan pemberian fasilitas atau sejumlah uang oleh perusahaan. "Banyak masyarakat yang menjadi korban karena tidak memihak masyarakat," ungkapnya.
Bila terbukti aparat menerima aliran dana dari perusahaan, tindakan itu termasuk gratifikasi. Tidak ada landasan hukum yang melegalkan Polri menerima dana dari perusahaan. Sebab, dalam menjalankan tugasnya kepolisian dibiayai APBN. "Aparat di sana (Mesuji) melakukan tindakan kekerasan. Nah, ini apakah ada keterkaitan dengan pemberian fasilitas atau uang," tandas Politisi Partai Hanura itu.