panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 Januari 2012 | 13:11 wib
Nelayan di Pati Masih Sulit Dapatkan Solar


PATI, suaramerdeka.com - Sampai sejauh ini nelayan di Pati masih kesulitan mendapatkan solar. Salah satu jenis bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ini biasa dipakai oleh nelayan untuk mengoperasikan armanda kapal penangkap ikan, baik yang menggunakan alat tangkap pancing (longline), cantrang dan purseseine.

Menurut Wahono, mantan Ketua KUD Sarono Mino di Juwana, hal itu disebabkan kuota solar yang ada di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) tak mencukupi kebutuhan nelayan. Oleh karenanya, nelayan kerap mengantre hingga berhari-hari untuk mendapatkan solar di SPBN.

"Saat ramai, waktu yang dibutuhkan nelayan untuk mengantre solar bisa mencapai belasan bahkan puluhan hari dan, hal ini kerap terjadi. Khususnya setelah libur melaut," ujarnya, Selasa (3/1).

Dia berujar, nelayan mempunyai kedudukan yang sama dengan masyarakat lain. Makanya, pihaknya meminta agar nelayan juga mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah. BBM bersubsidi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), misalnya.

Di tempat itu, jika terjadi kelangkaan, pemerintah selalu mengupayakan penanganan masalah tersebut secepatnya. Tetapi, hal itu berbanding terbalik dengan solar bersubsidi untuk nelayan. Meski telah berkali-kali diusulkan, namun sampai sekarang belum ada realisasinya.

"Dulu sudah pernah, nelayan melalui KUD Sarono Mino mengajukan permohonan penambahan kuota solar. Tetapi, upaya itu menemui jalan buntu. Sekarang kami meminta lagi agar kuota solar untuk nelayan segara ditambah. Sebab, alokasi solar yang ada di SPBN tak mencukupi kebutuhan nelayan," tandasnya.

Sebelumnya, menurut Serikat Nelayan Pati (Senepi), alokasi solar untuk nelayan di kawasan juwana tak hanya berkisar 60 ton per hari. Sementara kebutuhan bahan bakar untuk sekitar 470 armada kapal di Juwana mencapai 225 ton liter per hari. "Oleh karena itu, tak jarang beberapa nelayan ada yang mencari di tempat lain," kata Daslan, Ketua Senepi.

Menurutnya, hal ini jelas memberatkan nelayan. Pasalnya, untuk mendapatkan solar di tempat lain, meraka harus membayar upah untuk keperluan pengangkutan. "Biaya angkut untuk satu drum solar (sekitar 200 liter) mencapai Rp 5.000," ujarnya.

( Yudha Putra K / CN26 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
27 Mei 2012 | 09:56 wib
Dibaca: 19
27 Mei 2012 | 09:40 wib
Dibaca: 45
27 Mei 2012 | 09:10 wib
Dibaca: 105
27 Mei 2012 | 08:55 wib
Dibaca: 125
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER