
DENPASAR, suaramerdeka.com - Terkait kabar seorang turis Australia yang mengaku terinfeksi virus HIV, saat ditato di Bali, pengamat seni tato pun angkat bicara. Seniman tato dari Magic Ink, Bagus Ferry mengakui, memang ujung tombak penularan HIV adalah jarum.
Dia mengaku, sudah menyambangi hampir seluruh studio tato di daerah Kuta, Denpasar dan Sanur. Dari penelusurannya, terungkap bahwa, prosedur minimal seperti jarum baru, gloves baru, dan lemari sterilisasi nyaris dimiliki semua studio tato.
Patut diketahui, harga jarum tato saat ini sangatlah murah dan sangat mudah didapat, karena saat ini sudah banyak tato supplies (toko penjual peralatan dan perlengkapan tato) di Indonesia, pun di Bali tentunya.
"Dengan logika kasar, cukup dengan membuat tato sebesar bungkus rokok saja itu bisa membeli beberapa box jarum dan gloves. Sedangkan harga lemari steril paling murah kisaran Rp1,5 juta," urai Ferry.
Kendati begitu, Ferry menyakini jika menggunakan jarum baru untuk menato merupakan standar baku. "Jadi, kalau ada oknum yang tidak memakai jarum baru, sangat keterlaluan," imbuhnya.
Ferry mengaku setuju dengan komentar Profesor Tuti Parwati yang dilansir berbagai media massa. Profesor Tuti yang menemukan pertama kali kasus HIV di Indonesia pada tahun 1987 menyebut kecil sekali kemungkinan penularan virus HIV melalui tato.
"Tetapi melalui hubungan seksual dan berbagi jarum suntik saat menggunakan narkoba," ucap Ferry menirukan pernyataan Profesor Tuti.
( vvn / CN27 )