
PRAJURIT: Kanjeng Wiranto (depan) saat memimpin baris prajurit Bregada (pasukan) Tamtama Keraton Surakarta Hadiningrat, ketika mengikuti prosesi kirab pusaka di Wonogiri. (suaramerdeka.com/Bambang Pur)
SOLO, suaramerdeka.com - Setahun lalu, ketika berlangsung prosesi kirab dan ritual jamasan pusaka Bulan Sura di Wonogiri, Kanjeng Raden Arya Tumenggeng (KRAT) Wirantodiningrat, masih menyertai para prajurit Keraton Kasunanan Surakarta. Meskipun sebagai panglima komandan, dia tidak ikut baris bersama prajurit yang dipimpinnya.
Dia tetap menyertainya dari luar barisan, termasuk ikut berjalan mengikuti kirab, walau kondisinya badannya tidak fit. ''Raosipun mboten tegel menawi kula culaken (Rasanya tidak tega bila saya lepas),'' ujar KRAT Wirantodiningrat setahun yang lampau. Tapi pada kirab pusaka tahun Wawu 1945 (Muharam 1433), yang digelar 18 Desember 2011 lalu, dia tidak muncul.
''Kanjeng Wiranto sampun seda, engga sakmenika sampun dumugi satus dintenipun (Kanjeng Wiranto sudah meninggal, sampai sekarang sudah genap seratus harinya),'' tutur Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Mulyo Adipuro.
Nama KRAT Wirantodiningrat, begitu legendaris dalam memimpin prajurit Keraton Surakarta Hadiningrat. Betapa tidak, pria dengan perawakan tinggi besar ini, telah tampil menajadi panglima prajurit keraton sejak masih berusia 18 tahun. Setelah sebelumnya terlebih dahulu mengabdi menjadi prajurit. Jabatan panglima komandan prajurit keraton, sebelumnya dipegang oleh Letkol Gusti Kanjeng Pangeran Probokusuma (Paman Sinuhun PB XII).
Tapi, jabatan komandan prajurit itu, kemudian diserahterimakan kepada KRAT Wirantodiningrat. Sampai tiba saatnya meninggal pada usia 76 tahun, jabatan panglima komandan prajurit itu dia jalani selama 58 tahun. Saat dipegang Kanjeng Wiranto (begitu panggilan akrabnya), aba-aba prajurit diganti dari semula memakai bahasa Belanda, menjadi menggunakan bahasa Jawa. Aba-aba prajurit memakai bahasa Jawa ini, diciptakan oleh Kanjeng Wiranto.
Aba-aba itu terdiri atas siyaga (perhatian), sigeg (siap), tandyo (grak), lumaksono mangarso (maju jalan), karti sampeka (hormat), lerem sahono (istirahat), bubar angga (bubar jalan). Karena itu, untuk menyiapkan prajurit keraton, biasa diawali dengan aba-aba dari komandan: ''Siyaga, sigeg...... tandyo (Perhatian, siap, grak). Kemudian untuk memberangkatkan pasukan: ''Lumaksono mangarso (maju jalan).''
Untuk pasukan korps musik (korsik) Keraton Surakarta, yang melengkapi dengan tambur, seruling dan terompet, iramanya memakai irama: ''Baris terik tempe, trik dong dele gosong ....'' Irama korsik yang khas ini, dipertahankan sejak zaman PB III. Bahkan irama itu disakralkan, layaknya tari Bedaya Ketawang yang tidak pernah diubah gerak maupun iringan gendhing-nya.
Sejak Kanjeng Wiranto meninggal 100 hari lalu, sampai sekarang Sinuhun PB XIII belum mengangkat gantinya. Komandan pasukan keraton, saat ini dijabat sementara oleh KRT Mulyo Adipuro dan RT Giyono. Keduanya adalah prajurit dari bagian logistik Keraton Surakarta.
( Bambang Purnomo / CN34 / JBSM )