panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
26 Desember 2011 | 08:12 wib
Meningkat, Resistensi Bakteri Terhadap Antibiotik

 

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Bulan Juni lalu dunia sempat digemparkan dengan munculnya bakteri escherichia coli yang telah merenggut 26 jiwa di Jerman dan 1 orang di Swedia. Sejak mewabahnya bakteri tersebut, tercatat sebanyak 3.235 kasus yang dilaporkan di Jerman, 72 di antaranya menderita sindrom uremik hemolitik, penyakit yang mengancam jiwa karena menghancurkan ginjal dan sistem syaraf.

Bakteri e coli tersebut diidentifikasi sebagai e coli enterohaemorhagic (Ehec) yang di dalamnya mengandung gen yang kebal terhadap antibiotika.

"Dewasa ini kasus resistensi bakteri terhadap antibiotika kian meningkat. Beberapa bakteri berbahaya yang mengancam kelangsungan hidup manusia mampu berkelit dari setiap antibiotika yang digunakan dokter dalam pengobatan," kata Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof Dr M Kuswandi Tirtodiharjo SU MPhil Apt.

Data tahun 2010 menunjukkan bahwa 79 persen strain e coli resisten terhadap ampisilin, sedang 30 persen strain resisten terhadap siprofloksasin. Pada tahun 1999-2000 di Amerika terjadi kasus sebanyak 43 persen infeksi saureus resisten terhadap metisilin.

Beberapa bakteri berbahaya seperti mycobacterium turbercolosis dan pseudomonas aeruginosa tahan terhadap pemberian antibiotik. "Kekebalan bakteri terhadap antibiotika menyebabkan angka kematian penyakit menular kembali meningkat,'' jelasnya

Dia menyampaikan bahwa bakteri memiliki gen resisten dari hewan. Sebagian besar pemakaian antibiotika justru bukan untuk mengbobati penyakit infeksi pada manusia, melainkan untuk tujuan lain. Di Amerika, setiap tahunnya antibiotika digunakan 13 sampai 15 juta kilogram dan dari julah tersebut hanya 20 persen dipakai untuk pengobatan manusia.

Sementara sisanya dipakai untuk keperluan pertanian dan ternak, bukan untuk pengobatan. "Hal inilah menjadi awal pemakaian antibiotika yang tidak tepat sehingga menyebabkan terjadinya transmisi penyakit dari hewan ke manusia," paparnya.

( Bambang Unjianto / CN26 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 5691
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 6344
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 6134
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 7657
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 5907
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER