panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
17 Desember 2011 | 23:12 wib
Dokumentasi Kefarmasian Perlu Dibakukan

SOLO, suaramerdeka.com - Belum semua apoteker melakukan dokumentasi pelayanan kefarmasian. Padahal, dokumentasi ini sama pentingnya sebagaimana yang dilakukan oleh dokter berupa rekam medis atau catatan keperawatan oleh perawat di sebuah rumah sakit.

"Dokumentasi pelayanan kefarmasian ini memang belum baku. Tapi, jika ini dilakukan maka sangat membantu dalam penyembuhan pasien," kata Koordinator Depo Farmasi rawat jalan Rumah Sakit Tugurejo Semarang, Heru Dwi Purnomo MSc Apt, seusai memberikan pembekalan profesi apoteker mahasiswa Universitas Setia Budi (USB) Surakarta, Sabtu (17/12).

Dalam pendokumentasiannya, lanjutnya, cukup mudah untuk dikerjakan. Apoteker tinggal mencatat semua hal yang berkaitan dengan pasien. Mulai dari riwayat sakit, riwayat pengobatan, data laboratorium, catatan medik, termasuk informasi dari keluarga pasien. Hal ini berfungsi untuk mengetahui sejauh mana sakit yang diderita, penyebabnya apa dan diharapkan bisa diberikan obat yang tepat. Sayangnya, untuk melakukan hal ini, mereka masih terkendala akses untuk memperoleh data tersebut. Sejauh ini, hanya dokter yang bisa memperolehnya.

Menurut pria yang juga bertugas di bidang instalasi farmasi RS Tugurejo ini, telah ada rumah sakit yang telah melakukan pendokumentasian pelayanan kefarmasian. Tapi jumlahnya masih sangat terbatas. Kendala lainnya adalah jumlah apoteker yang dimiliki oleh rumah sakit. Seharusnya, satu tenaga kefarmasian menangani 30 pasien dalam satu bangsal. Kenyataannya, bisa lebih dari itu. Hal ini semakin menambah sulitnya pendokumentasian lantaran pasien bisa keluar masuk setiap saat.

Selain membekali dengan pengetahuan tersebut, ratusan mahasiswa calon apoteker juga ditekankan untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan sungguh-sungguh. Saat itulah, mereka akan memperoleh pengalaman yang berharga. Tidak jarang apa yang mereka temukan akan berbeda dengan teori yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan. "Mereka bekerja dengan dokter, perawat dan ahli gizi. Butuh cara pandang untuk memahaminya," ujarnya.

( Hanung Soekendro / CN34 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
26 Juli 2014 | 16:09 wib
Dibaca: 2
26 Juli 2014 | 15:55 wib
Dibaca: 27
26 Juli 2014 | 15:43 wib
Dibaca: 47
26 Juli 2014 | 15:30 wib
Dibaca: 158
26 Juli 2014 | 15:15 wib
Dibaca: 141
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER