
SOLO, suaramerdeka.com - Puluhan warga kembali menggelar aksi penutupan saluran irigasi di Dusun Sembung, Bekonang, Kecamatan Mojolaban, hari ini (14/12). Aksi itu mereka lakukan karena masih banyak limbah ciu yang dibuang ke saluran irigasi. Akibatnya, persawahan di beberapa desa banyak yang rusak.
Slamet, warga setempat mengatakan, mereka menutup saluran irigasi menggunakan tanah padas. Kemudian, gundukan tanah yang menutup saluran tersebut dipasangi patok kuburan dan payung makam. Hal itu sebagai gambaran banyak tanaman padi yang mati akibat limbah ciu.
Setidaknya, sekitar 100 hektare sawah di Desa Kleco, Baturan, dan Karangwuni kini tercemar limbah ciu. Beberapa petak sawah bahkan sudah lima kali gagal panen. Pasalnya, limbah ciu telah bertahun-tahun dibuang ke saluran irigasi sehingga terakumulasi dan menumpuk di dalam tanah. "Kesabaran warga sudah habis karena limbah ciu terus-menerus mengalir ke sawah," katanya.
Parmin, warga lainnya mengungkapkan, ciu-ciu tersebut berasal dari industri pembuatan ciu di Dusun Sentul, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban. Setiap hari, para perajin membuat ribuan liter ciu. Namun, limbahnya tidak mereka buang pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah disediakan. Mereka justru membuangnya ke saluran irigasi dengan alasan lebih cepat.
Dia mengungkapkan, saat ini sudah ada dua titik saluran irigasi yang ditutup warga. Keduanya berada di Dusun Sembung dan Desa Tegalmade. Warga mengancam menutup saluran irigasi lainnya jika aktivitas pembuangan limbah ciu ke saluran itu tidak dihentikan.
( Khalid Yogi / CN32 / JBSM )