
SEMARANG, suaramerdeka.com - Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pengguna energi terbesar adalah sektor industri, dengan pertumbuhan 39,6 persen pada 1990 menjadi 51,86 persen pada 2009, atau lebih dari setengah penggunaan total energi nasional. Pengguna terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 30,77 persen, diikuti dengan sektor rumah tangga sebesar 13,08 persen dan sektor komersial sebanyak 4,28 persen.
Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Ir Maryam Ayuni mengatakan, untuk konsumsi energi terbesar di wilayah Jawa Tengah, hingga saat ini juga masih pada sektor industri. ''Jika dilihat konsumsi energi per-industri, industri tekstil memiliki jumlah konsumsi tertinggi. Alokasi energi terbesar untuk sektor industri tekstil dan makanan-minuman adalah pada mesin produksi, sedangkan untuk gedung perkantoran pada fasilitas pengatur suhu (AC),'' paparnya saat membuka Pekan Efisiensi Energi untuk wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, Selasa (13/12).
Acara yang berlangsung dari Selasa-Jumat (13-16/12) di Ruang Merapi Hotel Novotel Semarang itu, digelar oleh Kementrian ESDM yang didukung oleh Pemerintah Denmark, dalam bentuk kerjasama antar-pemerintah melalui kegiatan Energy Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS), International Financing Corporation (IFC) serta kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah. ''Maka dari itu, diperlukan perubahan paradigma dari supply side management ke arah demand side management yang memfokuskan pada konservasi energi di sektor pengguna dan pemanfaatan energi terbarukan secara optimal,'' tandasnya.
Untuk itulah, imbuh dia, Pekan Efisiensi itu digelar sebagai sarana untuk mensosialisasikan efisiensi dan konservasi energi di Indonesia. Peran aktif itu dilakukan oleh Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) yang diluncurkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance) sejak Maret 2011 lalu. ''Semarang adalah kota kelima setelah Jakarta, Makassar, Bali dan Batam dari rangkaian kegiatan Roadshow Pekan Efisiensi Energi yang rencananya akan berlangsung di sembilan Propinsi di Indonesia,'' jelasnya.
Ketua Bidang Energi Kadin Jateng Budianto menambahkan, hingga saat ini industri di Jawa Tengah terutama tekstil dan karet masih berat untuk tumbuh sejalan dengan perkembangan transportasi yang butuh energi besar. ''Padahal, untuk energi yang dihasilkan dari fosil sangat terbatas, kemungkinan hanya sampai 25-30 tahun kedepan. Kalau mulai sekarang tidak hemat, nanti akan timbul masalah,'' ujarnya.
Co-Team Leader EINCOPS Melany Tedja menjelaskan, program EINCOPS tidak terbatas pada pengembangan fisik EECCHI, tetapi lebih ditekankan pada transfer know-how dan pengalaman Pemerintah Denmark dalam penerapan efisiensi dan konservasi energi. ''Dalam upaya konservasi energi, Denmark cukup berhasil , karena mampu meningkatkan Gross National Productnya pada 30 tahun terakhir, tanpa meningkatkan total konsumsi energi nasionalnya,'' jelasnya.
( Muhammad Syukron / CN34 / JBSM )