
JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah mengakui asumsi harga minyak mentah yang telah ditetapkan dalam APBN 2012 tidak lagi sesuai dengan perkembangan harga saat ini. Harga minyak yang sempat menembus 100 dolar AS per barel membuat asumsi dalam APBN 2012 tidak sesuai lagi.
Karenanya, pemerintah terus mewaspadai pergerakan harga minyak dan siap mengubahnya APBN 2012 jika tak sesuai lagi. "Kami sama-sama mengikuti, harga minyak tidak seperti yang dianggarkan. Yang kami anggarkan 90 dolar AS per barel, sekarang sekitar 110 dolar AS," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (12/12).
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat pemerintah mewaspadai secara terus menerus kondisi APBN 2012. Agus menyatakan akan terbuka peluang perubahan asumsi harga minyak dengan mengajukan RAPBNP 2012. "Seandainya dalam waktu dekat tidak turun, dan kita juga tidak bisa kejar penerimaan gas atau lainnya, maka kami akan ajukan APBN-P," cetus dia.
Pada perdagangan Senin (12/12), harga minyak mentah terkoreksi tipis. Minyak light sweet pengiriman Januari turun 18 sen menjadi 99,23 dolar AS per barel, sementara minyak Brent turun 16 sen menjadi 108,46 dolar AS per barel.
Agus Martowardojo menambahkan defisit dalam APBN 2012 dipatok sebesar 1,53 persen. Terkait defisit APBN-P 2011 yang ditargetkan sebesar 1,7 persen, Agus optimistis tercapai. Menurutnya, hal itu didasarkan dari banyaknya pencairan anggaran di kantor perbendaharaan negara. "Bagaimana tahun-tahun sebelumnya, Desember banyak pencairan. Jadi 1,7 persen defisit akan tercapai," tandasnya.
Lebih lanjut, Agus menyatakan krisis Eropa yang belum juga usai membuat pemerintah melebarkan kisaran pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 6,5-6,7 persen. Padahal sebelumnya pemerintah optimistis ekonomi dapat tumuh 6,7 persen di 2012. "Secara budget 6,7% tahun depan. Tapi development yang terakhir kami beri range 6,5-6,7 persen. Tapi seandainya kami betul-betul bisa atasi, misal pembebasan lahan, supaya memperbaiki infrastruktur itu tinggi," jelas dia.
Agus memaparkan beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah pada tahun mendatang, adalah target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7 persen dengan sasaran tingkat kemiskinan 10,5 persen sampai 11,5 persen, dan penyerapan tenaga kerja 450 ribu orang tiap satu persen pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, untuk tingkat pengangguran terbuka, pemerintah menargetkan penurunan hingga kisaran 6,4 persen hingga 6,6 persen.
( Kartika Runiasari / CN26 / JBSM )