panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
10 Desember 2011 | 07:41 wib
Tragedi Rawagede, Belanda Meminta Maaf
.

KARAWANG, suaramerdeka.com - Pemerintah Belanda secara resmi meminta maaf kepada keluarga korban pembantaian 1947 di Desa Balongsari, Rawagede, Jawa Barat yang menewaskan sedikitnya 150 orang, Jumat (9/12).

Permintaan maaf pada hari peringtan tahun ke 64 eksekusi oleh tentara kolonial Belanda, seperti disampaikan Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan, mendapat dukungan luas dari orang-orang di Belanda.

"Dalam konteks ini dan atas nama pemerintah Belanda, saya minta maaf atas tragedi yang terjadi di Rawagede pada 9 Desember 1947," kata Tjeerd de Zwaan.

Dia kemudian mengulangi permintaan maaf dalam bahasa Indonesia, yang disambut dengan tepuk tangan ratusan orang yang menghadiri upacara, beberapa di antaranya mulai menangis.

Tjeerd de Zwaan mengatakan, pembantaian itu adalah contoh jelas bahwa bagaimana hubungan Belanda-Indonesia dahulu telah "amat keliru".
"Saya berharap bahwa dengan merefleksikan bersama-sama pada apa yang terjadi hari itu, kita akan mampu berubah untuk masa depan dan terus mendekatkan diri melalui kerjasama yang produktif," katanya.

Pembantaian Rawagede terjadi ketika pasukan Belanda memasuki sebuah desa di kota Rawagede selama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tentara kolonial Belanda saat itu membunuh laki-laki dan anak laki-laki warga Rawagede di depan anggota keluarga dan tetangga mereka.

Meskipun para pejabat Belanda mengatakan jumlah korban tewas adalah 150 orang, namun sebuah kelompok pendukung dan masyarakat setempat mengklaim korban tewas berjumlah 431 orang.
 
Permintaan maaf ini mengikuti putusan pengadilan sipil yang berbasis di Den Haag bulan September lalu yang menyimpulkan negara Belanda bertanggung jawab atas tindakan eksekusi tersebut.

Sidang memutuskan, memenangkan gugatan tujuh janda yang selamat dari pembantaian ini; dan menolak argumen pemerintah Belanda, bahwa tidak ada klaim suatu kasus menjadi kadaluwarsa. Tindakan pembantaian itu dinyatakan "tidak dapat diterima".

( Al Jazeera , Linda Putri / CN33 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
Index Berita
02 September 2014 | 08:48 wib
Dibaca: 62
02 September 2014 | 08:39 wib
Dibaca: 179
image
02 September 2014 | 08:30 wib
Dibaca: 155
02 September 2014 | 08:21 wib
Dibaca: 182
02 September 2014 | 08:12 wib
Dibaca: 198
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
01 September 2014 | 00:30 wib
01 September 2014 | 14:59 wib
FOOTER