
SEMARANG, suaramerdeka.com - Provinsi Jateng mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah temu nasional ketransmigrasian. Temu nasional yang rencananya dibuka Gubernur Bibit Waluyo ini digelar di Ball Room Rama Shinta Hotel Patra Jasa Semarang selama tiga hari, tepatnya mulai Senin (5/12) hingga Rabu (7/12).
Kegiatan tersebut dihadiri 400 orang tamu undangan yang terdiri atas kepala dinas terkait ketransmigrasian dan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di seluruh Indonesia.
Selain itu juga pejabat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta perwakilan Universitas di Kota Semarang.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertransduk) Provinsi Jateng Petrus Edison Ambarura melalui Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja (Penta) Wika Bintang mengatakan, temu nasional ketransmigrasian tersebut dilaksanakan menyambut Hari Bakti Transmigrasi ke-61 yang tiap tahun diperingati tanggal 12 Desember.
"Temu nasional ini membahas agenda diskusi panel berkaitan permasalahan ketransmigrasian. Jateng hanya sebagai tuan rumah, sedangkan penyelenggaranya dari Kemenakertrans," katanya dalam siaran persnya, Jumat (2/12).
Temu nasional itu diharapkan bisa memberikan hasil positif dalam hal ketransmigrasian.
Adapun, Provinsi Jateng sendiri setiap tahunnya mengirimkan transmigran rata-rata mencapai 1.000 kepala keluarga (KK). Mereka dikirim ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Menurut dia, sebelum era otonomi daerah pada tahun 2000-an, jumlah transmigran Jateng bisa mencapai 10 ribu KK dalam setahunnya. Penurunan ini terjadi karena lahan yang digunakan untuk transmigran di luar Jawa kini terbatas.
Pemprov Jateng pun sekarang pilih-pilih, bila lahan yang ditempati transmigran kurang baik maka mereka tidak akan dikirim ke luar Jawa.
Minat masyarakat Jateng untuk menjadi transmigran ini masih tinggi. Setiap tahun, paling tidak ada 6.000 KK yang berkeinginan ke luar Jawa tetapi keinginan mereka belum bisa terwujud akibat terbatasnya kuota dari pemerintah pusat.
( Royce Wijaya / CN32 / JBSM )