
TERANCAM: Sebagian hunian sementara di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang ini tidak lagi ditempati. (suaramerdeka.com/ MH Habib Shaleh)
MAGELANG, suaramerdeka.com - Bangunan hunian sementara (huntara) yang diperuntukkan untuk korban banjir lahar dingin di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang terancam longsor. Sebagian bangunan huntara bahkan telah masuk ke dalam sungai.
Tebing longsor di sekitar bantaran Kali Putih ini dipicu oleh banjir lahar dingin. Aliran lahar berjalan zig zag, sehingga tebing di kanan dan kiri sungai tidak lagi kuat menahan terjangan lahar.
Akibatnya, para korban lahar tidak berani lagi menempati huntara. Ada empat keluarga yang tinggal di huntara tersebut yakni Suharti, Matmotin, Tuwuh, dan Abu Kalim. Mereka memilih mengungsi di balai desa atau rumah kosong.
Sebelumnya, rumah keempat warga itu sudah hancur diterjang lahar. Total ada 17 rumah warga yang menjadi korban keganasan lahar Gunung Merapi. "Saya dan anak-anak saya tidak ada yang berani, Mas. Kondisinya sudah sangat mengerikan. Tanah retak-retak dan sebagian sudah masuk sungai. Saya numpang di gubuk tetangga," kata Abu Kalim (73).
Menurut Abu Kalim jarak huntara dengan bibir sungai awalnya sangat jauh sekitar 50 meter. Di sana masih ada sejumlah rumah dan mushola, serta kebun. Namun kini kondisinya sudah sangat membahayakan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Drs Eko Triyono mengatakan, tanah longsor itu dipicu oleh banjir lahar dingin. Tebing hanya terdiri atas tanah liat yang mudah longsor.
Ia memperkirakan, longsor susulan masih akan terjadi sehingga warga diminta waspada. Selain itu, rumah warga yang berjarak kurang dari 15 meter dari sungai juga diminta menyingkir. "Kalau kondisinya masih seperti ini longsor masih bisa terjadi," kata dia.
Sementara itu, Koordinator Relawan Barisan Siaga Bencana (Brigana) Blongkeng Miftahul Huda mengatakan, aliran lahar berjalan zig zag karena adanya bendungan. "Dulu ada bendungan yang mengganggu aliran lahar. Sekarang meski bendungan sudah hancur namun lahar tetap zig zag karena tebing kadung rusak. Penanganan lahar ini harus dari hulu," kata dia.
Miftahul meminta Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) segera melakukan penanganan banjir lahar di Desa Blongkeng. "Jika permintaan normalisasi sungai dikabulkan, kondisinya tidak akan separah ini," kritik dia.
( MH Habib Shaleh / CN33 / JBSM )