
BOYOLALI, suaramerdeka.com - Isu munculnya dua titik api di puncak Merapi beberapa hari belakangan ini dinilai menyesatkan. Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena hanya membuat resah warga.
Menurut Tri Mujianto, petugas pos pengamatan Gunung Merapi di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, setiap informasi terkait Merapi bersumber dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) atau petugas pos pengamat. “Kalau bukan dari BPPTK, isu yang menyesatkan. Sampai saat ini, kami tidak menemukan titik api baru,” katanya.
Ditemui wartawan, di pos Jrakah, Rabu (30/11), dia menyatakan, sejak status Merapi dinyatakan aktif normal 15 September lalu, hingga saat ini tidak ada temuan titik api baru. Beredarnya isu munculnya titik api diam, membuat warga di lereng Merapi resah. Bahkan tidak sedikit yang datang langsung untuk menanyakan kebenaran isu tersebut.
Menurut Tri, ada dua kemungkinan munculnya isu titik api tersebut. Kemungkinan pertama api unggun yang dibuat oleh pendaki. Pasalnya, menjelang malam 1 Sura, jumlah pendaki meningkat tajam. Kemungkinan kedua adalah pantulan sinar laser saat kegiatan deformasi atau pengukuran bentuk gunung oleh petugas. “Informasinya, titik itu ada di atas New Selo, besar dugaan kami itu api unggun para pendaki.”
Dijelaskan, kegiatan deformasi dilakukan dengan cara menembakkan sinar laser ke reflektor tiga dimensi di puncak Merapi. Untuk pos pengamatan sektor Selo dan Jrakah memiliki masing-masing dua reflektor. Adapun pos pengamatan Babadan dan Kaliurang masing-masing memiliki empat reflektor. Hanya saja untuk reflektor pos pengamatan Kaliurang tidak berfungsi satu.
( Joko Murdowo / CN26 / JBSM )