
SEMARANG, suaramerdeka.com - Tahun 2012 mendatang, berpotensi terjadinya defisit gula konsumsi. Pasalnya, produksi gula tahun ini diyakini tidak sebanding dengan besarnya konsumsi gula dalam negeri.
Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), Adig Suwandi menuturkan, terjadinya defisit gula tersebut akibat penurunan produksi di hampir semua perusahaan gula. Tercatat pada tahun 2011 ini, produksi gula tahun ini lebih rendah dari tahun 2010 yang mencapai 2,3 juta ton.
Data Dewan Gula menyebutkan, sampai akhir Oktober lalu, produksi gula konsumsi mencapai 2,11 juta ton. Angka ini diperoleh dari penggilingan tebu sebanyak 28,48 juta ton yang diusahakan di atas areal 323.583 hektar. Produksi diperkirakan masih akan bertambah 40.000 ton lagi, sehingga secara keseluruhan hingga semua Pabrik Gula (PG) menyelesaikan masa giling akan mencapai 2,15 juta ton.
"Bila konsumsi 2,7 juta hingga 2,8 juta ton per tahun, sangat mungkin akan mengalami defisit gula konsumsi yang besarannya mencapai 400.000 hingga 500.000 ton di tahun depan," katanya, Senin (28/11).
Menurut Adig, penyebabnya turunnya produksi antara lain anomali iklim berupa panas yang terik setelah hujan berkepanjangan di tahun 2010. Selain tanaman tebu mengalami inisiasi pembungaan dan berakibat penggabusan (voos) yang menjadikan berat batang menurun, sejumlah wilayah kerja pabrik gula terserang penyakit karat daun pada tingkatan serius dan berakibat terganggunya proses pembentukan gula melalui fotosintesis.
"Beberapa PG tampak kesulitan mendapatkan tebu masak awal yang dapat digiling selama dua bulan pertama giling," ungkapnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain, dilakukan penataan varietas tebu mengarah pada komposisi antara masak awal, tengah dan akhir berbanding 30-40-30%, penerapan praktek budidaya terbaik (best agricultural practices), kecukupan agroinputs, perbaikan manajemen tebang angkut pada level lapangan (on farm).