
JEPARA, suaramerdeka.com – Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruk) Jepara menjelaskan penilaian pertama alias P1 untuk penghargaan Adipura sudah dilangsungkan pada pertengahan bulan ini. Penilaian yang pada tahun sebelumnya hanya sehari kali ini berlangsung hingga tiga hari. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ciptaruk Suyatno.
Menurut Suyatno, pihaknya optimistis dengan hasil penilaian pertama untuk terus diperbaiki pada penilaian selanjutnya. Prestasi Jepara maraih penghargaan Adipura tujuh kali berturut-turut diharapkan bisa terus dipertahankan. ’’Penilaian memang semakin ketat karena lima besar yang masuk akan mendapat penghargaan Adipura Kencana,’’ ujarnya.
Proses penilaian, lanjut Suyatno, dilakukan di area Kecamatan Kota dan Tahunan dengan titik pantau yang lebih banyak. Penilai bahkan bisa masuk ke beberapa gang yang ada di Tahunan. ’’Kalau dulu hanya beberapa sekolah sekarang hampir semua sekolah masuk titik pantau sehingga lebih lama,’’ jelasnya.
Meski demikian, Suyatno mengaku penilaian terhadap kondisi Jepara masih baik. Bahkan, penilaian awal itu lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. ’’Kami belum tahu pasti bagaiman hasil penilaiannya dan juga belum tahu kapan akan diumumkan. Tapi, memang perkiraan kami hasilnya cukup baik,’’ terangnya.
Salah satu bagian yang mengatrol penilaian di Jepara adalah kebaraan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Kondisi TPA Jepara dalam kondisi baik ketimbang daerah lain. ’’Apalagi, di TPA ada upaya daur ulang untuk pupuk sehingga ada upaya untuk mengurangai sampah sehingga hal itu juga berpengaruh,’’ ucap Suyatno.
Meski demikian, lanjut Suyatno, pihaknya akan terus berbenah untuk menghadapi penilaian berikutnya. Sebab, setelah P1 masih ada penilaian sebelum ada keputusan dapat penghargaan atau tidak. ’’Kami akan terus mempersiapkan kondisi lingkungan termauk berharap kepada partisipasi masyarakat untuk ikut memperhatikan kebersihan lingkungan masing-masing,’’ tuturnya.
Dia lantas menjelaskan salah bagian yang akan menjadi perhatiannya adalah kondisi taman yang ada di area kota. Itu karena ada sekitar 25 hingga 30 tanaman yang mati sehingga perlu diganti. ’’Memang harus diganti. Selain itu juga perlu ada penggantian hutan buah yang arah ke Makam Pahlawan karena ada juga yang mati,’’ jelas Suyatno.
’’Hutan buah ini mendapat respon cukup baik dari masyarakat karena bisa dinikmati ketika berbuah. Kami akan mengupayakan itu, tetapi masyarakat juga harus bisa menjaga. Artinya kalau mengambil jangan sampai merusak,’’ sambungnya.
( Akhmad Efendi / CN34 / JBSM )