
SURABAYA, suaramerdeka.com - Peringatan itu disampaikan Al Chaidar, pengamat terorisme dan ahli gerakan Islam. Badan Intelijen Negara (BIN), Polri dan TNI diminta ekstrawaspada menghadapi kemungkinan gerakan terorisme yang masih mengancam di Indonesia saat malam Natal dan perayaan Natal tahun 2011 ini.
Bahkan, menghadapi Natal 2011, menurut Al Chaidar, tak menutup kemungkinan bakal ada serangan kelompok teroris yang tak menginginkan kondisi stabilitas keamanan di negara ini kondusif.
"Saya rasa informasi itu benar adanya dan bukan sekadar ancaman biasa," kata Al Chaidar di sela-sela sebagai pembicara dalam seminar bertema Relasi Islam dengan Nasionalisme dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme' yang digelar Badko HMI Jatim di rumah makan Taman Sari Indah Surabaya, Selasa (22/11).
Ada sejumlah kota di Indonesia yang mesti meningkatkan kewaspadaan pada malam Natal dan perayaan Natal 25 Desember 2011 nanti. Di antaranya Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Solo, Denpasar, dan Yogyakarta.
"Gereja masih menjadi target serangan kelompok teroris. Teroris menganggap kolompok nonmuslim, khususnya Kristen, menjadi
ancaman bagi Islam. Kalau tak diserang sekarang, mereka khawatir Kristen menyerang Islam di masa depan," tambahnya.
Mengenai sumber rekruitmen teroris, Al Chaidar mengemukakan, sel teroris yang perlu diwaspadai saat ini adalah kelompok Abu Umar yang beroperasi di Solo, Jateng dan Cirebon, Jabar. Mereka ini paling aktif melakukan reproduksi sumber daya manusia secara militan dan memiliki banyak sel jaringan.
Kelompok Abu Umar dianggap lebih radikal, brutal dan berbahaya dibandingkan kelompok lain seperti kelompok teroris pimpinan Abu Rosyid (kelompok Serpong-Tangerang). Khusus wilayah Jatim, Al Chaidar mengatakan, yang patut diwaspadai adalah pergerakan terorisme di Surabaya, Pasuruan, dan Banyuwangi.
Ini karena terdapat kantor Konsulat Jenderal (Konjen) AS di Surabaya dan di kota ini juga banyak gerejanya. "Di samping itu, selain gereja yang jadi sasaran, yang juga perlu diwaspadai adalah serangan ke kantor polisi, masjid, dan mal yang menjual produk kapitalis Amerika Serikat," tegasnya.
( Ainur Rohim / CN26 / JBSM )