
Kudus, CyberNews. Sepinya permintaan souvenir dari limbah batok kelapa membuat usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus, banting harga. Meskipun demikian hal tersebut belum dapat menarik minat beli konsumen.
Koordinator UMKM Handicraft Pemuda Usaha Mandiri, Desa Temulus, Aji Prasetyo Kamis (17/11) mengatakan, hal ini sebenarnya sudah berlangsung sekitar tiga bulan. "Kami tidak tahu penyebabnya secara pasti. Namun hal ini diperkirakan soal musim saja," katanya.
Beberapa waktu lalau saat musim libur sekolah permintaan cukup banyak, sekitar 1.000 lebih item suvenir yang dipesan. "Namun kini justru berbanding terbalik. Kami hanya memproduksinya sedikit sekali untuk persediaan sampel," paparnya.
Aji menjelaskan, untuk mensiasati hal ini piahaknya akan menjual murah, meskipun harga yang sebenarnya sudah tergolong sangat murah. "Kami lakukan sistem paket atau borongan, sehingga barang mudah laku, meskipun keuntungan tidak maksimal," katanya.
Ditanya soal harga, pihaknya menjelaskan, untuk sementara tidak ada kenaikan, masih seperti tahun lalu yaitu berkisar antara Rp 1.500 - Rp 75.000 per buah. "Sampai saat ini kami masih melayani permintaan khusus, dengan harga yang berbeda," imbuhnya.
Ditanya soal wilayah pemasarannya, pihaknya menjelaskan, yang pasti masih seputar lokal Kudus, dan sebagian kecil ada di luar pulau yaitu Bali. "Sebenarnya pesanan masih terus mengalir, hanya saja tidak sebanyak dulu, hanya sekitar 100 - 200 item item dari berbagai jenis," ujarnya.
Meskipun banting harga, kualitas masih menjadi prioritas utama. "Ini kami lakukan agar minat beli konsumen tetap terjaga," tandasnya.
( Ruli Aditio / CN34 / JBSM )