
Boyolali, CyberNews. Material di sisi timur laut puncak Merapi sisa erupsi tahun 2010 lalu diperkirakan masih ada sekitar 20 juta kubik. Jika curah hujan di puncak cukup tinggi, material sebanyak itu bisa mengakibatkan banjir lahar dingin yang akan melanda di sepanjang aliran kali (sungai) Gandul.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam hal ini Kantor Kesbanglinmaspol bekerja sama dengan Tim SAR telah melakukan beberapa langkah antisipasi. Langkah antisipasi tersebut di antaranya dengan mendirikan Posko Pengamatan Bahaya Banjir Lahar Dingin di sejumlah titik sepanjang aliran kali Gandul.
"Ada tiga Posko yang kami dirikan. Satu di Wonopedut, satu lagi di Desa Paras, Kecamatan Cepogo dan satu lagi di Desa Pusporenggo, Kecamatan Musuk," ujar Kurniawan Fajar Prasetyo Yoyok, Komandan SAR Boyolali.
Menurut penuturan dia, dipilihnya Wonopedut, Paras dan Pusporenggo untuk mendirikan Posko karena di tiga lokasi itu merupakan titik yang rawan bencana banjir lahar dingin sebab di sana terdapat beberapa permukiman penduduk, dan juga menjadi lokasi para penambang pasir dan batu.
Dari data yang ada di Wonopedut terdapat 179 keluarga yang berdekatan dengan aliran Kali Gandul. Sementara di Paras ada 25 keluarga sedangkan di Pusporenggo belum ada kepastian jumlah keluarga namun dimungkinkan juga cukup banyak. Kecuali itu ada banyak penambang yang setiap hari mencari pasir dan batu di sepanjang aliran tersebut.
Seiring denga telah datangnya musim hujan belakangan ini, Tim SAR tidak hanya melakukan pengamatan akan kemungkinan banjir lahar dingin. Namun di samping itu mereka juga telah melakukan sosialisasi baik itu kepada pemilik rumah yang berdekatan dengan aliran sungai atau pun kepada para penambang pasir dan batu.
"Tapi kami juga tak ingin membuat masyarakat menjadi panik. Karena itu kami selalu hati-hati dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat," ujar Yoyok.
Meski diharapkan tidak perlu kuatir, masyarakat tetap dihimbau untuk tetap waspada. Khususnya dengan mereka yang tinggal di sekitar aliran kali Gandul dan juga para penambang pasir dan batu. Sebab jika di puncak Merapi intensitas hujan tinggi, dimungkinkan banjir lahar dingin akan terjadi.
"Tahun lalu, bersamaan dengan Erupsi Merapi jembatan di Desa Paras sampai tidak bisa difungsikan sementara karena diterjang lahar dingin," ujar Warsito, Komandan Posko II Desa Paras.
Menurut penuturan Yoyok, saat ini sudah ada 94 relawan yang siap melakukan langkah antisipasi bencana lahar dingin. Jumlah relawan sebanyak itu merupaka gabungan dari berbagai kelompok. Di antaranya Sabana Paras, Sigap Wonopedut dan Wonodoyo, SAR Kecamatan Teras dan lain-lainnya.
Diharapkan pendirian Posko itu akan segera pula bisa dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang standar sesuai dengan kebutuhannya.
( Wisnu Kisawa / CN33 / JBSM )