
Semarang, CyberNews. Sekitar 45 juta ton meter kubik pasir di lereng Gunung Merapi berpotensi rawan longsor saat musim hujan seperti sekarang ini. Curah hujan yang tinggi sewaktu-waktu bisa menjadikan material tersebut meluncur ke bawah dan membahayakan masyarakat sekitar lereng Merapi. Bahaya banjir lahar dingin itu bisa terjadi dan mengalir ke Kali Putih, Pabelan, dan Gendol.
"Pasir yang ada di lereng Merapi ini sewaktu-waktu bisa turun dalam bentuk banjir lahar dingin. Karenanya, masyarakat yang berada di kawasan rawan longsor untuk bisa meningkatkan kewaspadaannya," kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng Teguh Dwi Paryono, hari ini (15/11).
Pemprov Jateng bersama pemerintah kabupaten setempat telah berupaya maksimal untuk mengatasi bencana longsor.
Selain sosialisasi dan pelatihan, pihaknya mengatakan, sejumlah patok monitoring juga dipasang di kawasan lereng Merapi. Patok tersebut memiliki arti penting untuk mengetahui pergerakan tanah di daerah rawan longsor.
Media air menjadi faktor utama penyebab tanah longsor meski tak menutup kemungkinan pemicunya dari pengaruh geologi seperti halnya struktur tanah dan bebatuan.
Menurut dia, tingginya curah hujan ini sudah menyebabkan enam dam atau bendungan di Provinsi Jateng jebol, salah satunya di Kendalsari, Kabupaten Klaten.
Memasuki musim hujan 2011, tercatat sudah ada dua kejadian bencana longsor. Bencana longsor yang menewaskan satu orang warga terjadi di Purworejo. Satu bencana lain yang terjadi di Banyumas hanya menyebabkan kerugian material.
( Royce Wijaya / CN32 / JBSM )