
Kudus, CyberNews. Maraknya peredaran gula rafinasi produksi PT Makasar Tene di beberapa daerah khususnya Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB sangat merugikan petani tebu. Dampaknya harga gula tani turun. Saat ini harga gula tani per kg hanya Rp 8300-8500.
Padahal musim giling sudahh hampir selesai. Hal tersebut dikatakan oleh Wakil Sekjek DPN APTRI, M Nur Khabsyin, Rabu (9/11), di Kudus. Ia menambahkan tahun lalu harga gula mencapai Rp 9500. Ia memperkirakan turunnya harga gula merugikan petani hingga Rp 1,4 triliyun. Asumsinya selisih harga gula perkg tahun dan sekarang sebanyak Rp 1.200 dikalikan 1,2 juta ton gula petani.
Pihaknya mendesak agar pemerintah segera mengumumkan audit distribusi industri gula rafinasi. Hal ini untuk memastikan kebutuhan riil gula rafinasi yang diserap industri makanan dan minuman. "Harus ada sanksi yang tegas bila ada yg melanggar," ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, juga harus menindak dan memberi sanksi yang tegas kepada PT Makasar Tene, produsen gula rafinasi merek Bola Manis yang jelas-jelas menjual sebagian besar gula rafinasi hasil produksinya di pasar umum. "Perlu diketahui izin impor raw sugar untuk bahan baku gula rafinasi PT Makasar Tene sebesar 330.000 ton," katanya.
Pihaknya juga mendesak agar mencabut SK Mendag nomor 111 tahun 2009 yang mengizinkan 25 persen gula rafinasi dijual ke industri kecil dan industri rumah tangga. Karena kebijakan ini mendistorsi pasar dan sulit dikontrol. "Pada kenyataannya industri kecil dan rumah tangga kebanyakan memakai gula putih," ujarnya.
Izin impor raw sugar, imbuhnya, untuk industri gula rafinasi sebesar 2,4 juta ton harus dikurangi dan ditinjau ulang dg alasan serapan gula rafinasi oleh industri makanan dan minuman (mamin) berkurang.
Dengan perhitungan tersebut produksi gula tahun 2011 diperkirakan turun. Pihaknya meminta pemerintah menunda rencana impor gula putih 260 ribu ton untuk mencukupi kebutuhan sampai April 2012. Pasalnya stok gula di pasar termasuk gula rafinasi yang beredar dipasaran dan gula selundupan harus dihitung terlebih dahulu. "Saat ini stok melimpah dibuktikan pasar gula lesu," katanya.
( Zakki Amali / CN34 / JBSM )