
Solo, CyberNews. Sebanyak 23 pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) terjaring razia, Rabu (9/11). Diduga razia bocor, karena sebelumnya patugas menargetkan PGOT yang kemungkinan terjaring lebih banyak dari itu.
"Yang terjaring 80 persen lebih orang-orang baru. Sementara orang-orang lama yang sudah menjadi target sebelumnya, diduga mencium adanya razia. Kalau saya simpulkan mereka saling berkomunikasi melalui ponsel yang dimiliknya razia berlangsung," ujar Kabid Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Surakarta, Agus Hastanto, saat pendataan PGOT di Rumah Singgah Sosial, di Komplang, Banjarsari.
Razia tersebut lanjut Agus, dimulai di Jalan Slamet Riyadi melalui dua tim dari Dinsosnakertrans, Satpol PP, aparat kepolisian dan sejumlah tim medis d beberapa Rumah Sakit (RS) yang berjumlah 25 petugas. Ada dua mobil yang dioperasikan, yakni satu truk dari Satpol PP dan satu dari tim medis untuk mengecek kesehatan PGOT yang terjaring.
"Satu tim berkonsentrasi di kawasan Panggung dan Terminal Tirtonadi. Kemudian satu tim yang lain di kawasan Pasarkliwon dan sekitarnya. Mereka menyisir disetiap lampu merah dan pinggir pasar," ujarnya.
Dia mengatakan, daru razia yang dilakukan beberapa jam itu, hanya mendapatkan 23 orang PGOT saja. Pasalnya sesuai target sebelumnya, diperkirakan yang akan terjaring lebih banyak lagi dari jumlah yang didapat itu.
Dari 23 PGOT tersebut, lima orang kedapatan sakit jiwa dan kemudian dibawa ke RSJ Surakarta di Jurug, dua orang dari Kabupaten Wonogiri dan sembilan orang dari Solo. "Sementara tujuh orang sisanya mereka dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Terlantar selama dua minggu ini di Solo. Mereka tidur di jalanan," ungkapnya.
Menurut dia, setelah pendataan dilakukan oleh petugas di Rumah Singgah Komplang, PGOT dari Solo, Wonogiri dan Flores itu akan dikembalikan satu hari setelah razia ke tempat masing-masing. Namun khusus PGOT dari Solo, akan dibina dan dipantau petugas selama dikembalikan di rumahnya.
( Asep Abdullah / CN26 / JBSM )