
Semarang, CyberNews. Industri pasar modal berupaya mendorong pengembangan unit Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai salah satu penopang perekonomian nasional. Pasar modal dapat meningkatkan peran UKM melalui akses pendanaan.
Menurut Wakil Ketua Umum Keuangan, Perpajakan, dan Pasar Modal Kadin Jateng, Joko Sambodo, selain industri perbankan pasar modal dapat berperan serta dalam mengembangkan UKM dengan memperluas akses pendanaannya. UKM dapat memanfaatkan pasar modal untuk pembiayaan tanpa bunga.
"Selama ini UKM kalau butuh modal larinya selalu ke perbankan. Padahal tidak hanya perbankan saja yang punya fasilitas pembiayaan, pasar modal juga punya," katanya usai membuka Program Edukasi Pasar Modal di kantor Kadin Jateng, Senin (31/10).
Joko mengatakan, selama ini pengetahuan masyarakat terhadap pasar modal masih sangat minim. Image yang terbentuk, berbisnis di pasar modal membutuhkan dana yang besar. Hanya pengusaha besar saja yang bisa menikmati keuntungan bermain di pasar modal. "Sebenarnya seluruh lapisan masyarakat baik sektor menengah maupun kecil bisa memanfaatkan bisnis ini," ujarnya.
Karena itu, Kadin Jateng menyelenggarakan pelatihan pasar modal bagi masyarakat yang ingin belajar berinvestasi di pasar modal. Pelatihan yang diselenggarakan bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia, dan PT CIMB Securities Indonesia ini diikuti oleh 50 orang peserta.
Divisi Pemasaran Bursa Efek Indonesia Semarang, Stephanus Cahyanto Kristiadi mengatakan, sejauh ini pihaknya terus berupaya untuk menyosialisasikan pasar modal pada masyarakat terutama UKM, agar mereka dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang ada. Namun sejauh ini di Jawa Tengah belum ada satu pun perusahaan yang bersedia memanfaatkan pasar modal untuk pembiayaan.
"Sulit untuk membuat perusahaan menjadi go public, terutama perusahaan keluarga. Sebab salah satu syarat pembiayaan ini adalah perusahaan harus bersifat terbuka dan berstatus PT. Syarat lain perusahaan minimal memiliki aset senial Rp 5 miliar, dan memiliki laporan keuangan yang diaudit," katanya.
Sayangnya, lanjut dia, belum semua perusahaan siap untuk go public karena harus berbagi kepemilikan dan keuntungan dengan pihak lain. Selain itu bila sudah masuk ke pasar modal, kondisi perusahaan dapat dikontrol langsung oleh publik. "Sebetulnya prospek di Jawa Tengan cukup bagus, mengingat banyak perusahaan yang memiliki aset lebih dari Rp 5 miliar," tuturnya.
( Fani Ayudea / CN34 / JBSM )