
Yogyakarta, CyberNews. President and Manager of Reservoir Engineering Services GeothermEx Inc California USA, Dr Subir K Sanyal menyebutkan hampir lebih dari 70 persen lahan di Indonesia diketahui memiliki basis sumberdaya geothermal lebih dari 50 MW dan hampir setengahnya (40) mempunyai basis sumberdaya sekitar 100 MW bahkan lebih.
Adapun sumur komersial bervariasi dalam kapasitasnya mulai dari 3 MW hingga lebih dari 40 MW dengan nilai rata-rata 9 MW.
"Nilai mean, median, dan produktivitas maksimum sumberdaya geothermal di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terlihat di kebanyakan negara. Kami memperkirakan kisaran produktivitas yang paling mungkin dari produktivitas sumur bor di seluruh dunia hanya mencapai kisaran 4-6 MW,'' katanya dalam kuliah umum bertajuk "How to Minimize Drilling Risk'', di KPTU FT..
Menurutnya, selain memiliki lahan dengan basis sumber panas bumi yang besar, Indonesia juga memiliki kapasitas panas bumi yang besar pula. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk pengeboran per sumur jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara lainnya.
"Oleh karena itu, risiko sumberdaya yang ada secara keseluruhan dalam proyek panas bumi di Indonesia seharusnya juga bersifat lebih rendah daripada negara lainnya," paparnya.
Lebih lanjut mengenai tingkat keberhasilan dalam pengeboran, dituturkannya, keberhasilan suatu pengeboran rata-rata meningkat sejalan dengan semakin banyaknya jumlah sumur bor.
Hal itu dikarenakan peningkatan dalam hal ukuran sampel dan dalam efek kurva belajar. Pada umunya tingkat keberhasilan pengeboran berkisar antara 50-90 persen, dengan lebih banyak rentang tipikal 60-70 persen dengan rata-rata sekitar 67 persen. "Untuk Indonesia sendiri, tingkat keberhasilan pengeboran mencapai angka 63 persen seperti halnya di sebagian besar negara lainnya," jelasnya.
( Bambang Unjianto / CN26 / JBSM )