panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
10 Oktober 2011 | 23:55 wib
Bisnis Pasir Besi, Bagai Bom Waktu yang Tiap Saat Bisa Meledak

 

Cilacap, CyberNews. Bisnis penambangan pasir besi di tiga kecamatan di Cilacap masing-masing Adipala, Binangun dan Nusawungu dengan lingkup mencapai ratusan hektare bisa menjadi bom waktu yang suatu saat meledak. Itu dikarenakan penambangan memiliki beragam dampak sosial yang bisa memicu timbulnya keresahan masyarakat.

"Sangat kompleks imbasnya. Dari masalah lingkungan hidup, rusaknya fasilitas umum sampai pada imbas lain," kata Ketua Kelompok Kerja Mitra Mandala, Darmawan, hari ini.

Menurut dia yang mempunyai anggota dari desa-desa di Kecamatan Adipala itu, imbas nyata yang saat ini bisa dilihat adalah rusaknya wilayah pesisir pantai. Kerusakan terjadi karena setelah ditambang, banyak yang kemudian tidak direklamasi. Akibatnya, banyak pesisir yang kondisinya mengenaskan, muncul lubang di mana-mana. "Ini fakta riil. Saya juga yakin terjadi di wilayah lain yang ditambang dan diambil pasir besinya."

Jalan-jalan Rusak

Imbas lain yang nyata terlihat adalah rusaknya jalan-jalan yang dilalui truk pengangkut pasir besi. Setelah ditambang, pasir besi yang masih bercampur pasir/tanah biasa harus dibawa untuk dikumpulkan di lokasi penimbunan. Lokasi itu biasanya merupakan wilayah luas yang dilengkapi alat-alat besar seperti traktor dan alat pemisah (separator) untuk memisahkan pasir besi dari pasir tanah.

Dari lokasi tambang di daerah pantai, truk harus membawa pasir tambang ke lokasi penimbunan dan itu melewati jalan-jalan umum. Ratusan truk pasir besi yang dalam satu hari melalui jalan-jalan Adipala diyakini semakin mempercepat kerusakan jalan yang dilalui.

Belum lagi sikap sopir yang selalu dinilai sejumlah pihak menggampangkan aturan seperti tidak menutup bak, sehingga pasir besi berhamburan mengganggu pengguna jalan lain serta merusak kualitas udara.

”Kasus disweepingnya truk-truk pasir besi, karena ada keyakinan menewaskan salah seorang sopir becak pekan kemarin. Saya yakin sedikit banyak ikut dipengaruhi  ketikdakpuasan yang muncul selama ini terhadap aktivitas pasir besi dan segala sisinya,” ungkap Darmawan.

Prediksi pasir besi akan menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dalam bentuk aksi massa dibenarkan salah seorang tokoh masyarakat Widarapayung Kulon, Kecamatan Adipala, Tohirin.

Rusaknya jalan, pencemaran udara, rusaknya pantai adalah beberapa contoh dari imbas yang saat ini sudah banyak dikeluhkan masyarakat.

”Ini bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Tinggal bagaimana penanganannya. Pendeknya, salah urus bisa menjadi pemicu konflik baru di masyarakat,” kata Tohirin.

Ada Ketentuan

Bagaimana tanggapan Pemkab Cilacap atas tudingan rusaknya lingkungan pantai karena tak ada reklamasi di bekas lokasi tambang, Kepala Dinas Binamarga, Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Mineral (Binamarga, SDA dan ESDM) Cilacap, Farid Ma’ruf, mengatakan sudah ada ketentuan bahwa penambang harus mereklamasi lokasi tambang.

Itu sudah menjadi ketentuan yang harus ditepati. Jika tidak maka perusahaan yang melanggar itu akan dikenai teguran dan diberi kewajiban untuk mereklamasi.

”Kita pastikan semua penambang harus mereklamasi bekas penambangan. Pengawasan dilakukan secara periodik untuk memastikan bahwa penambang mematuhi aturan yang ada,” tandasnya.

Menurut Humas CV Harum, salah satu perusahaan pelaku penambangan pasir besi, mengatakan selama penambang mematuhi aturan seperti mereklamasi, patuh pada ketentuan tata cara pengangkutan pasir besi dan peduli terhadap lingkungan,
tidak akan ada permasalahan apa pun dalam penambangan pasir besi di Cilacap timur.

Sebaliknya, jika semua ketentuan yang ada tidak dilaksanakan, maka sikap tidak suka masyarakat terhadap aktivitas penambangan akan selalu ada.

Penambangan pasir besi mulai dilakukan sejak dua tahun terakhir. Dengan memegang Izin Usaha Penambangan (IUP) dari Pemkab Cilacap maka seorang bisa menambang.

Praktik yang ada saat ini adalah pemodal yang tahu sebuah lokasi kaya pasir besi akan mendekati warga yang tanahnya kaya besi. Setelah ada kesepakatan dengan warga dan pihak desa, IUP diajukan.

Setelah IUP turun, mereka akan menambang. Pasir diambil dan dipisahkan dari besinya dan diekspor ke Cina. Bisnis itu menggiurkan, karena untuk satu hektare pasir, keuntungan bersih penambang bisa mencapai Rp 500 juta lebih.

Pun bagi masyarakat, ada yang ikut mendapatkan keuntungan. Warga yang tanahnya digali akan mendapat uang sewa lahan dengan nilai sekitar Rp 65.000/meter persegi dan uang debu Rp 100.000/hari.

Desa yang lokasinya digali dan jalan desanya dilalui truk-truk pasir besi mendapat uang perbaikan jalan desa yang nilainya di atas Rp 100 juta/kilometer.

Meski begitu, saat ini yang perlu dipikirkan tampaknya adalah banyak mana mereka yang diuntungkan atau dirugikan oleh aktivitas penambangan pasir besi. Jika yang diuntungkan lebih sedikit dari yang dirugikan, diyakini masalah ini suatu saat akan menjadi bom waktu dan meledak.

( Mohamad Sobirin / CN32 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga



    Panel menu
    Berita Terbaru
    05 September 2014 | 23:56 wib
    Dibaca: 25943
    05 September 2014 | 23:45 wib
    Dibaca: 27621
    05 September 2014 | 23:30 wib
    Dibaca: 27332
    image
    05 September 2014 | 23:15 wib
    Dibaca: 30808
    05 September 2014 | 23:00 wib
    Dibaca: 26569
    Panel menu tepopuler dan terkomentar
     Berita Terpopuler
    FOOTER