
Yogyakarta, CyberNews. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) sekaligus Dekan Fakultas Teknik (FT) UGM Dr Ir Tumiran MEng mendesak pemerintah untuk memangkas dana alokasi subsidi BBM dan listrik yang diperkirakan mencapi 200 triliun di tahun 2012.
Menurutnya, subsidi tersebut lebih banyak tidak tepat sasaran, karena dimanfaatkan untuk konsumtif masyarakat kaya dan mampu. ''Secara bertahap harus dikurangi, seharusnya keluarga yang mampu disuruh berhemat,'' katanya kepada wartawan disela-sela acara workshop on development of new and renewable energy, di ruang sidang plaza KPTU FT UGM.
Dikatakan, selain bisa menghemat dana anggaran APBN, pengurangan dana subsidi tersebut juga bisa dialokasikan untuk melaksanakan program pemerintah yang lain seperti percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan listrik yang mampu menggerakkan roda perekonomian dan penyerapan ribuan lapangan kerja.
Diakuinya, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih sangat minim. Padahal pemerintah berencana untuk mencapai target kontribusi energi baru dan terbarukan menjadi 25% dari total kebutuhan energi di tahun 2025 dan 40% di tahun 2050. Bahkan sejumlah tantangan masih dihadapi untuk mewujudkan target itu, terutama dalam hal teknologi dan lingkungan.
Indonesia perlu belajar dari negara-negara lain yang sudah lebih maju dalam pemanfaatkan energi baru dan terbarukan, salah satunya Swedia. ''Saat ini produksi energi listrik di Swedia sudah mencapai 50%, berasal dari energi terbarukan seperti tenaga air, biomassa dan sampah organik kota dan tenaga angin,'' tuturnya.
Dijelaskan, FT UGM kini telah menggandeng Swedia dalam penelitian dan pengembangan energi baru dan terbarukan. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah pemanfaatan sampah buah busuk di pasar Gamping untuk diubah menjadi listrik. Pemanfaatan energi terbarukan di pasar Gamping itu sudah diinisiasi FT UGM dan universitas Boras Swedia, Pemkab Sleman dan pemerintah Kota Boras.
( Bambang Unjianto / CN34 / JBSM )