panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
20 September 2011 | 16:37 wib
Dosen IIP Mengadu ke Komisi Yudisial

Jakarta, CyberNews. Nurliah Nurdin (39) yang merupakan Dosen Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) melaporkan majelis hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel) kepada Komisi Yudisial (KY). Dia menilai majelis hakim melanggar kode etik dengan menjatuhkan hak asuh anaknya yang masih di bawah umur kepada sang suami, Andi Wahyudin (40) yang berprofesi pengacara.

"Keberpihakan telah terjadi dalam amar putusan majelis hakim karena ada pertemuan antara hakim dan Andi Wahyudin. Bahkan pada sidang kedua Ketua Majelis Hakim telah meminta saya untuk melepaskan hak asuh anak saya sebagaimana telah saya laporkan ke KY secara detail," kata Nurliah, di Gedung KY, Jakarta, Selasa (20/9).

Nurliah mendatangi KY bersama Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Ansor. Kedatangannya kali ini menindaklanjuti laporan pengaduannya tertanggal 28 Juli 2011 dan 22 Maret 2011 lalu.

"Saudara Andi Wahyudin menangis di PA Jaksel dan secara nyata tampak ingin memisahkan saya dengan anak-anak saya. Dia menangis menghadap majelis hakim dan mempengaruhi hakim agar membatalkan surat izin cerai dari Kemdagri," kata Nurliah.

Nurliah mengatakan, mantan suaminya itu menggunakan jurus air mata yang bisa menyesatkan bila menjadi pertimbangan dalam putusan. Padahal, dalam Pasal 1 Huruf g dan Pasal 105 huruf b ditegaskan, bahwa ibu lebih berhak dari ayah dalam mengasuh anak di bawah usia 12 tahun apabila terjadi perceraian. "Putusan hakim juga bertentangan dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," katanya.

Kekerasan Fisik

Apalagi, Nurliah mengaku kerap mendapatkan kekerasan fisik. Misalnya, pada Selasa 12 Oktober 201 malam, jilbab birunya ditarik dicabik-cabik dan kejadian ini disaksikan oleh keponakannya yang masih kecil hingga trauma. Sayangnya kekerasan itu tidak langsung Nurliah visum dan jilbab birunya yang dicabik-cabik Andi hilang.

"Kalau saya sebagai pelacur yang membuang waktu di klub malam barulah majelis hakim dapat mengatakan saya sebenarnya tidak layak memegang hak asuh. Tapi kalau saya menimba ilmu apa yang salah," keluh Nurliah.

Menanggapi pengaduan ini, Komisioner KY bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi, Suparman Marzuki, mengatakan, kalau ada kesalahan menjatuhkan putusan bisa diperbaiki di tingkat banding.

Namun, terkait pengaduan pelanggaran kode etik Nurliah, baru sampai tahap menuju rapat panel. Nantinya akan diputuskan, pemeriksaan kasus ini bisa ditindaklanjuti atau tidak. "Belum ada pemanggilan baru menuju panel, kalau ada indikasi baru menuju pemanggilan.

( Budi Yuwono / CN26 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
29 Juli 2014 | 21:10 wib
Dibaca: 38
image
29 Juli 2014 | 20:55 wib
Dibaca: 154
29 Juli 2014 | 20:45 wib
Dibaca: 110
29 Juli 2014 | 20:30 wib
Dibaca: 347
image
29 Juli 2014 | 20:15 wib
Dibaca: 155
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER