
Jakarta, CyberNews. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta, Selasa (20/9) pagi, kembali bergerak melemah sebesar 100 poin ke posisi Rp 8.970 dibanding sebelumnya Rp 8.870 per dolar AS.
Analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta mengatakan, pasar mata uang Asia kembali mendapat tekanan terhadap dolar AS termasuk rupiah dipicu dari pemangkasan peringkat utang Italia yang membuat pasar global kembali terpuruk.
"Pasar Asia kembali mendapat tekanan, termasuk nilai tukar Asia yang juga masih melemah. Lagi-lagi, nilai tukar rupiah bersama won Korea melemah paling tajam di antara mata uang Asia lainnya," ujar dia.
Ia mengatakan, pemangkasan peringkat utang Italia membuat pasar global terpuruk lagi, Senin (19/9) malam sehingga berimbas ke pasar Asia. "Di tengah sentimen ketakutan investor global, Standard & Poor's (S&P) memangkas peringkat utang Italia dari 'A+' (single A plus) menjadi 'A' (single A) dan menurunkan outlook-nya menjadi negatif dengan pertimbangan pelemahan ekonomi global dan pemerintahan yang rentan di Italia," kata Lana.
Ia menambahkan, S&P juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi Italia dari 1,3 persen menjadi 0,7 persen untuk 2011 sampai dengan 2014. "Perlambatan ekonomi ini diperkirakan membuat pemerintah Italia akan mengalami kesulitan fiskal, dan target defisit anggaran akan sulit dicapai," tambahnya.
Ia memperkirakan, Italia mempunyai kewajiban utang jatuh tempo bulan September ini senilai 14,5 miliar euro. Keputusan S&P ini membuat pasar global turun. "Indeks Dow dan harga minyak mentah turun, dan investor kembali membeli obligasi AS sebagai aset yang dianggap aman," kata dia.
Ia mengatakan, diperkirakan rupiah dapat kembali menembus level Rp 9.000 per dolar AS, tetapi untuk hari ini kemungkinan akan ada intervensi yang dapat menahan mata uang dalam negeri berada dikisaran antara Rp 8.860 hingga Rp 8.900 per dolar AS.
( MIOL / CN31 )