
Yogyakarta, CyberNews. Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) bakal memeriksa dan menguji kualitas alat sinar X seluruh rumah sakit. Pasalnya kualitas alat tersebut di masing-masing rumah sakit tak sama. Ketidaksamaan ini karena peralatan berasal langsung dari pabrikan di luar negeri yang kualitasnya juga berlainan.
Direktur Perijinan Pancaran Radiasi dan Radioaktif Bapeten, Sugeng Sumbarjo mengungkapkan itu usai menghadiri wisuda sarjana sains terapan di Sekolah Tinggi Tekhnologi Nuklir (STTN) BATAN, Yogyakarta, kemarin. Sebanyak 139 sarjana sains terapan diwisuda dan 28 orang di antaranya lulus cum laude.
Sugeng menambahkan, berdasarkan pemeriksaan awal pihaknya menemukan kualitas sinar X di rumah sakit-rumah sakit seluruh Indonesia berbeda satu dengan lainnya. Dia mengakui, 80% peralatan sinar X masih impor langsung dari pabrikan. Otomatis standarnya juga berbeda satu pabrikan dengan pabrikan lain.
''Operator sinar X di rumah sakit juga tak tahu stanadar kualitasnya, mereka hanya tahu penggunaannya. Karena itu kami telah membentuk tim khusus untuk melakukan uji kualitas dan standarisasi alat sinar X secara menyeluruh, nasional,'' tandasnya.
Tenaga Ahli
Sugeng menjelaskan, tim berisikan tenaga ahli dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Kementrian Kesehatan dan pakar terkait dari luar negeri. Mereka akan menyusun standarisasi kualitas alat sinar X kemudian uji kualitas mulai tahun 2012 mendatang.
Dia menambahkan, berdasarkan data rumah sakit seluruh Indonesia, ada peningkatan minat berobat ke luar negeri dibandingkan dengan di negeri sendiri. Biaya pengobatan di sana, masih berdasarkan data yang dia ketahui, bisa mencapai Rp 2 triliun tiap tahunnya. Standarisasi dan uji kualitas inilah sebagai salah satu upaya agar masyarakat lebih percaya berobat di dalam negeri dengan kualitas peralatan yang sama.
Pada bagian lain, Sekretaris Utama Batan, Noor Agus Salim menjelaskan lulusan STTN Batan hingga sekarang 943 orang yang tersebar di berbagai industri dalam dan luar negeri. Lulusannya selain menguasai ilmu juga dibekali sertifikat sebagai petugas proteksi radiasi.
''Sertifikat inilah yang menjadikan alumkni siap bekerja di lingkungan industri termasuk rumah sakit yang menggunakan tekhnologi nuklir. Mereka benar-benar siap,'' tegasnya.
( Agung Priyo Wicaksono / CN27 / JBSM )