
Solo, CyberNews. Penguatan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi salah satu upaya yang dilakukan guna menghadapi ASEAN Economic Community (AEC/Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015. Upaya ini, menurut Direktur Jendral Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementrian Perdagangan (Kemendag), Iman Pambagyo, dilakukan lantaran hampir 99 persen pelaku usaha di ASEAN adalah UKM.
"Upaya yang kami lakukan di antaranya tahun ini mulai membentuk semacam Dewan Penasihat UKM ASEAN. Diharapkan bisa merumuskan rencana kerja sampai memaparkan masalah yang dihadapi UKM di wilayah ASEAN," ujarnya.
Selain itu, tahun ini juga akan direalisasikan kemudahan akses UKM mendapatkan pembiayaan dari lembaga perbankan. Dikatakan, Tim Ahli sedang merumuskan formula untuk menerapkan sistem pengajuan kredit tanpa jaminan. Kemudahan fasilitas ini diharapkan bisa semakin menguatkan sektor UKM sehingga menjadi semakin mumpuni di tingkat ASEAN.
Di Indonesia, jelas dia, Akses permodalan membebankan bunga kredit komersial tertinggi di ASEAN. Dia menjelaskan susah untuk mendapatkan kredit untuk sunses industries seperti garment. Hal ini berakibat program-program revitalisasi belum menjadi terobosan dalam bidang usaha.
Kemendag, jelas dia, nantinya akan mengomunikasikan program tersebut kepada Kementrian Koperasi dan UMKM. "Kami tidak mungkin bisa bekerja sendiri, karena di Indonesia bidang UMKM ada di bawah Kemenkop dan UMKM."
Masalah Sistemik
Sementara AEC, kata dia, dibentuk didasarkan atas empat pilar yakni pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang memiliki daya saing tinggi, pembangunan ekonomi di kawasan yang merata dan integrasi perekonomian kawasan dengan perekonomian global.
Namun dia mengingatkan masalah sistemik yang harus diatasi sesegera mungkin, di antaranya infrastruktur, regulasi dan infrastruktur teknologi. Masalah infrastruktur, di antaranya jalan raya sepanjang 34.000 km yang sebagian besar merupakan peninggalan zaman Belanda, jalan tol yang hanya 1,82 persen dari total jalan raya dengan pertumbuhan dalam satu dekade terakhir hanya tiga persen per tahun.
Dalam infrastruktur teknologi, pertumbuhan jaringan telepon di Indonesia per 1.000 orang dan pemakaian mobile phone per 1.000 orang masih lebih rendah dibanding Singapura dan Thailand. Hal ini berdampak pada ketertinggalan pelaku usaha dalam hal akses kepada data dan informasi pasar.
"Di lain pihak, Indonesia mencatat rekor sebagai negara dengan pertumbuhan facebookers terbanyak di dunia. Social relation telah mengalami dehumanisasi, tapi ini dapat dikembangkan ke arah enterpreunership."
( Anie R Rosyidah / CN26 / JBSM )