
MEMINTA MAAF: Wali Kota Soemarmo HS sungkem meminta maaf pada mantan Wali Kota Soetrisno Suharto, hari ini (5/9), saat silahturahmi di rumah tinggal Jl Bukit Kahyangan No 2, kawasan Bukit Sari. (SM CyberNews/Hartatik)
Semarang, CyberNews. Banyak "orang penting" yang berperan dalam roda pemerintahan Kota Semarang. Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas keras. Ada pula yang telah lama jalan beriringan, namun tak disadari arti kehadirannya. Satu yang pasti, bak manik-manik semua "orang-orang penting" yang pernah singgah itu merupakan pembentuk mosaik catatan sejarah. Nampaknya Wali Kota Soemarmo HS tak ingin dianggap sebagai pribadi yang lupa diri. Untuk itulah paska Lebaran tahun ini, kali kedua ia beserta jajaran staf rutin mengunjungi kediaman mantan-mantan orang nomor 1 dan 2 di Kota Semarang.
Kebaikan adalah orangtua dan guru, sanak dan kerabat, teman serta sahabat. Karena itulah kenanglah seluruh kebaikan orang-orang yang pernah berjasa dalam kehidupan, atau juga kebaikan yang mungkin tersembunyi di balik kekecewaan.
Bagaimanapun mereka-mereka ini telah turut memahat kemajuan Kota Semarang. Pesan moral inilah yang coba ingin ditunjukkan dalam silahturahmi di kediaman para mantan wali kota dan wakil wali kota, Senin (5/9).
Senyum sumringah mengembang di bibir Muchatib Adisubrata (69) bersama istrinya, Endang Sri Wahyuningsih (65). Maklum saja siang itu, mantan Wakil Wali Kota Semarang periode 2000-2005 ini menerima kunjungan puluhan kepala SKPD dan Muspida. Dengan keramahan yang khas, ia pun mempersilahkan para tamu agar langsung menikmati hidangan. Tak selang lama suasana siang yang terik itu pun cair.
Di sela-sela bercerita tentang kegiatan rutin yang dilakukan selama Lebaran, pria bertubuh tambun itu menyatakan simpati atas insiden kebakaran yang berkali ulang mendera aset Pemkot. Menurutnya, bencana terjadi karena atas tiga perkara.
"Ada tiga perkara yang melatarbelakangi kenapa bencana terjadi. Pastinya Allah telah merencanakan, namun kita tidak tahu apakah bencana ini merupakan ujian, rahmat ataukah suatu azab," kata Muchatib di rumah tinggal Jl Sapta Prasetya III/No 36, Pedurungan Kidul.
Untuk itulah, ia berpesan agar wali kota mawas diri. Bencana kebakaran yang bertubi-tubi ini seyogyanya bisa menjadi pelajaran bersama. Bisa dibilang semua pihak musti saling introspeksi.
Di kediaman mantan Wakil Wali Kota Mahfudz Ali, di Jl Tusam I/No 33A tak banyak yang diperbincangkan. Hanya saja mantan "pendamping" Soekawi Sutarip pada periode dua ini lebih sering tersenyum. Satu persatu kepala SKPD yang disalaminya itu seakan mengembalikan memorinya.
"Oh Ednawan, kamu sekarang (bertugas) dimana," tanya Mahfudz yang mengenakan kemeja katun batik pada Kepala Dishubkominfo tersebut. Ya, bagi Mahfudz silahturahmi adalah jembatan hati. Sehingga bisa terwujud rasa kebersamaan.
Beberapa saat kemudian, rombongan dua bus itu melanjutkan ke Jl Bukit Kahyangan No 2, kawasan Bukit Sari. Di kediaman megah mantan Wali Kota Soetrisno Suharto (73) itu, para tamu musti naik ke lantai dua. Pasalnya, kondisi suami Siti Chomsiati (58) ini tidak memungkinkan untuk berdiri lama. Duduk bersandar di kursi rotan dengan tongkat krek di sampingnya, suara Soetrisno masih lantang.
"Kayak ngimpi, saya bisa bisa bertemu lagi dengan kalian," hibur dia. Ia berharap, wali kota yang datang tanpa didampingi Wakil Wali Kota Hendrar Prihadi agar tidak melupakan "orang lama". Bagaimanapun jua, mereka memiliki peran dalam memperjuangkan kemajuan Kota Semarang.
"Kita harapkan yang lama dan mantan jo lali. Kayak gitu bisa terbawa mimpi."
( Hartatik / CN32 / JBSM )