
Yogyakarta, CyberNews. Ribuan umat muslim Yogyakarta, berduyun-duyun menuju lapangan untuk melaksanakan sembahyang Salat Idul Fitri di Alun-alun Utara, Yogyakarta, Selasa (30/8). Bertindak sebagai imam dan khotib Prof Dr Din Samsuddin.
Sebagian umat muslim Yogyakarta, memang ada yang melaksanakan Salat Idul Fitri pada hari Selasa (30/8), tapi juga ada yang melaksanakan Lebaran Rabu (31/8) sesuai dengan keputusan pemerintah.
Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas serta kerabat keraton lainnya juga tidak tampak dalam Salat Idul Fitri di Alun-alun Utara. Karena menurut hitungan Keraton Yogyakarta, Lebaran juga jatuh pada Rabu (31/8).
Dalam khotbahnya Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan, perbedaan perayaan Idul Fitri tahun ini jangan sampai menjadi bahan konflik diantara umat Islam di Indonesia. Menurutnya, perbedaan semacam ini adalah rahmat yang harus dipahami, dan dijadikan dasar menumbuhkan rasa toleransi di kalangan umat.
"Hendaknya budaya ukuwah Islamiyah harus terus ditingkatkan, dan pemerintah harus dapat menjadi pengayom, berdiri diatas semua golongan," katanya.
Dikatakan, saat ini umat Islam terutama di Indonesia sedang dihadapkan pada tiga masalah utama, yakni kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Umat Islam, menurut Din samsuddin, menghadapi masalah kesenjangan antara jumlahnya yang besar dan kualitas perannya bagi peradaban dunia.
"Banyak negara Islam yang mempunyai sumber daya alam kaya raya, tetapi tidak di dukung sumber daya manusia berkualitas, sehingga hampir tidak ada negara Islam yang bisa dikategorikan negara maju,''katanya.
Untuk itu, ia mengimbau umat Islam supaya tampil sebagai penyelesai masalah bangsa. Sebagai kelompok mayoritas di Indonesia, umat ISlam sangat menentukan kemajuan bangsa.
"Untuk itu, perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Perlu ada perubahan cara pandang. Jika umat Islam maju, Indonesia akan maju,'' ujarnya.
( Sugiarto / CN34 / JBSM )