
Jakarta, CyberNews. Front Pembela Islam (FPI) bersikukuh mengecam film "?" garapan sutradara Hanung Bramantyo. Sebab film tersebut dinilai merusak akidah umat Islam.
FPI berpendapat, teramat banyak adegan yang menuai kontroversi dan patut untuk diperangi karena sudah menyalahi akidah islamiah. Berdasarkan data–data yang dimiliki, FPI mengingatkan umat muslim bahwa Islam sangat menghargai perbedaan keyakinan, tapi menolak pencampur-adukan agama (pluralisme).
Menurut FPI, film "?" menyajikan sejumlah pernyataan dan agenda yang bisa memberi kesan negatif kepada masyarakat. Dalam film itu juga ada cerita tentang Surya yang bermain drama pada Hari Raya Paskah di gereja dengan peran menjadi Yesus. Sebelum pentas, Surya latihan Yesus disalib di dalam masjid, lalu direstui oleh ustaz yang mengajar di masjid tersebut. Saat pentas di gereja pun banyak orang berpenampilan muslimin dan muslimat yang ikut berpatisipasi menonton dan membagikan bingkisan Paskah kepada jemaat gereja.
Kesan yang ditampilkan dalam adegan ini adalah orang Islam main drama di gereja dan berperan sebagai Yesus tidak masalah. Latihan drama Yesus disalib dalam masjid juga tidak masalah. Orang Islam ke gereja untuk ikut merayakan Paskah pun tidak masalah. Islam ke gereja, Yesus, salib, masjid itu sama saja (pluralisme).
Selain itu, ada pula adegan pendeta ditusuk, gereja dibom, restoran China diserang sekelompok masyarakat muslim di Hari Lebaran. Demikian juga sekelompok pemuda muslim bersarung dan berpeci mencerca seorang China yang dibalas dengan bahasa Jawa yang artinya "Dasar Teroris Anjing".
Kesan yang ditampilkan dari adegan tersebut adalah orang Islam itu bengis, biadab dan jahat. Walaupun dalam adegan penusukan pendeta dan pengeboman gereja tidak jelas pelaku dan motifnya, namun dengan rentetan adegan mengarahkan kesan kepada umat Islam. Dalam film itu juga ada cerita tentang Rika yang semula muslimah, kemudian murtad masuk nasrani karena kecewa suami berpoligami.
Rika pun berdalih bahwa kemurtadannya bukan berarti membenci atau pun mengkhianati Tuhan. Sepanjang cerita Rika ditampilkan sebagai sosok yang ideal, toleran, arif dan bijak. Ibu dan anak Rika yang semula menentang kemurtadan Rika, akhirnya bisa menerima. Dalam cerita ini ada narasi : "...semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan."
Kesan yang ditampilkan dari adegan ini adalah syariat poligami itu buruk karena merusak rumah-tangga dan menyebabkan orang murtad. Demikian juga, murtad itu bukan mengkhianati Tuhan, sehingga tidak apa-apa orang murtad. Rika murtad tapi digambarkan ideal, toleran, arif dan bijak, sehingga orang murtad pantas untuk diterima secara baik.