
PERSIAPKAN ALAT: Kepala Kantor Kementrian Agama Kudus, H Hambali memeriksa alat untuk melakukan rukyah sore ini. (SM CyberNews/ Ruli Aditio)
Kudus, CyberNews. Sesuai dengan kesepakatan bersama tim Badan Hishab Rukyah Daerah (BHRD) kembali akan mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali untuk menentukan 1 Syawal 1432. Rencananya akan dilakukan sore ini, Minggu (28/8) di Pantai Kartini Jepara.
Ketua BHRD Kudus, H Sururi kepada Suara Merdeka CyberNews mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan segalanya termasuk membawa perlengkapan seperti pada saat melihat hilal untuk menentukan 1 Ramadhan lalu. "Kami sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak yang berkompeten di bidang ini, dan diharapkan kegiatan rukyah ini bisa berlangsung dengan sukses," katanya
Terkait dengan informsi bahwa akan ada potensi perbedaan 1 Syawal, dia menjelaskan hal tersebut memang dikarenakan penggunaan kriteria hilal yang berbeda sebagai acuan penetapan awal bulan tersebut. "Antara hisab atau perhitungan secaraikmu falak, dan rukyah atau meride pengamatan hilal secara langsung dengan menggunakan teropong bintang," jelasnya.
Namun pada dasarnya dari sejumlah pengamatan dari kegiatan tersebut penentuannya adalah tetap menunggu keputusan sidang Isbat yang juga dilakukan pada malam hari itu juga. "Kami tetap menungu keputusan penentuan 1 Syawal dari sidang Isbat yang dilakukan oleh pemerintah pusat," paparnya.
Disinggung soal kendala terkait dengan persiapan rukyah kal ini, pihaknya menjelaskan sampai saat ini tidak ada dan cenderung lancar. "Mudah-mudahan cuaca cerah sehingga hilal bisa dilihat tanpa ada halangan," katanya.
Metode Pengamatan
Sururi menambahkan, terkait soal perbedaan, pihaknya menjelaskan hal tersebut memang ada beberapa metode pengamatan, diantaranya rukyah atau pengamatan langsung.
"Secara perhitungan, bulan akan tampak setinggi dua derajat pada sore 29 Ramadhan. Sehingga 30 Agustus mulai Idul Fitri 1432 H. Namun metode lain mengatakan tinggi dua derajat ini masih terlalu kecil. Sehingga pengamatan langsung mungkin saja tidak berhasil melihat bulan. Sehingga puasa disempurnakan menjadi 30 hari," jelasnya.
Kemudian metode hisab, hasilnya sudah banyak diterapkan pada kalender umum yang ditentukan pemerintah. "Namun demikian keputusan penentuan tetap menunggu sidang isbat yang rencananya akan berlangsung akhir pekan ini," pungkas dia.
( Ruli Aditio / CN27 / JBSM )