
Temanggung, CyberNews. Aparat kepolisian atau Satpol PP perlu berjaga-jaga, serta melakukan penertiban dalam malam takbiran yang berlangsung pada tanggal 1 Syawal.
Mengingat, pengalaman pada Lebaran tahun-tahun sebelumnya, setiap malam takbiran banyak terjadi kecelakaan, terutama ketika massa melakukan arak-arakan dengan menggunakan sepeda motor. Permintaan kepada aparat itu disampaikan Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Temanggung.
Melalui ketuanya, Yami Blumut, Minggu (28/8), GP Ansor meminta, agar aparat polisi atau Satpol PP melakukan patroli dan menertibkan pelaksanaan takbiran di malam hari raya Idul Fitri tersebut, sehingga kejadian kecelakaan dalam momentum itu tidak terulang kembali.
''Hampir dapat dipastikan, setiap malam takbiran ada kecelakaan lalu lintas, akibat arak-arakan yang tidak tertib. Bahkan, kecelakaan tersebut pernah mengakibatkan nyawa korbannya terenggut,''ujarnya.
Menurutnya, malam takbiran seharusnya dipergunakan untuk mengangungkan asma Allah SWT dengan bacaan takbir, tasbih, hamdallah, dan tahlil, sebagai wujud kemenangan memerangi hawa nafsu selama bulan Ramadan.
''Karena itu, jangan malah dipergunakan untuk berhura-hura dengan arak-arakan menuju ke kota, atau bahkan sambil minum minuman keras. Pengalaman tahun–tahun sebelumnya, hal ini yang mengakibatkan kecelakaan, bahkan hingga merengut nyawa korban,''tuturnya.
Di samping itu, GP Ansor juga mengimbau kepada para orang tua, agar di malam takbiran dapat mengawasi dan mengendalikan anak-anaknya, sehingga mereka mempergunakan malam tersebut untuk menyeru asma Allah SWT di masjid, langgar atau mushola.
Sedangkan terkait kemungkinan adanya perbedaan penentuan 1 Syawal, pihaknya menyerukan kepada seluruh anggota Ansor dan Banser untuk menjaga kekhusukkan dan persatuan sesama muslim. Kemudian, agar menunggu keterangan secara resmi dari PP GP Ansor yang akan berkoordinasi dengan PBNU, mengenai jatuhnya 1 Syawal berdasarkan hasil rukhyah.
( Henry Sofyan / CN27 / JBSM )