
Semarang, CyberNews. Resah akan tergusur dari pemukiman yang dihuni sekarang, warga Ngemplak Simongan mendirikan posko simpatik. Mereka mengklaim penggusuran yang terjadi dimana-mana adalah bentuk ekspansi modal yang dilakukan kapitalisme.
Hal itu tidak diinginkan warga, dan berharap Pemkot Semarang bisa menjadi mediator penyelesaian masalah. "Tujuan kami, warga RT 6 dan 8 RW 2 Ngemplak Simongan membangun posko tidak lain untuk menggalang simpati dari warga lain. Nantinya kami juga akan menggalang dana untuk membantu meringankan beban warga lain yang akan tergusur proyek normalisasi Banjirkanal Barat," kata Suripto, koordinator warga.
Dijelaskan, meski sudah keluar SK Wali Kota Nomor 900/156 tertanggal 10 Mei 2011 tentang pemberian tali asih dan ongkos bongkar bangunan dan lahan garapan di sepanjang bantaran Kaligarang dan Banjirkanal Barat, keputusan tentang relokasi warga masih menggantung belum ada kepastian. Hal ini disebabkan banyak warga yang tidak memiliki sertifikat.
"Kami terus berharap pada Pemkot untuk memperhatikan nasib warga dan keluarganya yang telah lama tinggal di bantaran Banjirkanal Barat. Sampai kapan pun kami tetap berharap dan menghindari anarkis," ujarnya.
Siap Bayar
Warga mengaku siap membayar biaya pengganti lahan relokasi dengan cara mengangsur. Selain permintaan itu, Suripto dan warga lain tetap mengharap kebijaksanaan dari Wali Kota untuk membantu serta ikut mengawal jalannya relokasi mereka.
Pengamatan Suara Merdeka di lapangan menyebutkan, bangunan posko yang terbuat dari tratak ukuran 3 x 3 meter itu juga dipasangi penerangan. Mereka menempatkan meja kursi dan buku tamu untuk mengidentifikasi warga yang datang memberikan dukungan. "Sebelum ada kesepakatan tali asih dan lahan relokasi, posko tetap kami buka," tuturnya.
Letaknya di tepi jalan menuju permukiman warga dan kantor kelurahan membuat keberadaan posko tidak mengganggu mobilitas warga lain yang menggunakan Jalan Simongan menuju Manyaran atau sebaliknya.
( Ranin Agung / CN31 / JBSM )