
Jakarta, CyberNews. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (12/8) pagi melemah 10 poin ke Rp 8.540. Rupiah terkoreksi lantaran dipicu kekhawatiran investor atas melambatnya ekonomi dunia yang disebabkan AS dan negara-negara Eropa.
"Investor masih mengkawatirkan kondisi finansial AS dan negara-negara Eropa yang akan membuat pertumbuhan ekonomi melambat," kata Rully Nova, pengamat pasar uang Bank Saudara, di Jakarta. "Sehingga pelaku pasar lebih cenderung memegang instrumen investasi safe haven, salah satunya dolar AS.
Meski demikian, lanjut dia, fundamental ekonomi dalam negeri yang positif akan membuat dana asing bertahan di dalam negeri. Sehingga, rupiah tetap stabil kendati kondisi global tidak dapat diantisipasi. "Dana asing memang tercatat turun, tapi tidak signifikan. Rupiah kita juga masih stabil, karena ekonomi kita masih baik ditengah gejolak global," ucap Rully.
Sementara, pengamat valas dari Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan, posisi cadangan devisa turun US$ 500 juta dalam lima hari akibat tekanan pasar sejak 5 Agustus silam. Cadangan devisa sebelumnya tercatat US$ 123,2 miliar dan pada 10 Agustus menjadi US$ 122,7 miliar.
Pada saat yang sama, kata dia, kepemilikan asing di surat utang negara atau SUN turun Rp 6,4 triliun. Sementara di Sertifikat Bank Indonesia atau SBI, kepemilikan turun sebesar Rp 400 miliar. Keduanya setara dengan US$ 797 juta.
"Sedangkan kepemilikan asing di saham tercatat neto jual sebesar US$ 518,8 juta. Sehingga, total kepemilikan asing di ketiga instrumen tersebut senilai 1,32 miliar dolar AS," ujar Lana. Dengan demikian, lanjutnya, masih ada sekitar US$ 820 juta yang kemungkinan masih bertahan di dalam negeri.
Ia mengatakan, di tengah ketidakpastian global dan ketakutan terhadap terutama pasar-pasar utama dunia di AS dan Uni Eropa, tampaknya pasar Indonesia masih diminati investor asing. Apalagi, didukung dengan fundamental yang cukup solid serta return yang masih menarik. "Kemungkinan ini juga didukung dengan masih stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Lana.
( Ant / CN31 )