
Semarang, CyberNews. Meski berbagai sektor industri terkena imbas perdagangan bebas termasuk Asean China Free Trade Agreement (ACFTA), namun industri roti atau bakery nasional justru tak terpengaruh sama sekali.
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Se-Indinesia (Gapmmi), Franky Sibarani mengatakan,sampai saat ini industri roti sama sekali tak terpengaruh produk impor. Pasalnya roti termausk makanan segar yang masa kadaluawrsanya pendek, maksimal hanya enam hari.
"Proses pengiriman produk impor seperti dari China yang cukup memakan waktu lama, membuat roti impor tidak bisa bertahan lama. Jadi bisa dipastikan industri roti nasional saat ini tak ada saingan," katanya.
Menurut Franky, pesaing jutsru muncul dari produk-produk makanan luar yang diproduksi di Indonesia, seperti pizza dari Italia. Sedang untuk roti dari China, sama sekali belum ada.
"Industri roti China belum ada yang masuk ke Indonesia, baik itu franchise atau tidak," ujarnya.
Dipaparkan, produk industri makanan dan minuman olahan yang rentan bersaing dengan produk China adalah biskuit. Sementara untuk produk kacang, Indonesia tidak bersaing dengan China karena karakter produk yang berbeda.
"Kacang Indonesia lebih gurih dan bijinya lebih kecil dibandingkan kacang China," imbuhnya.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (Apebi) Chris Hadijaya mengatakan, China akan sulit masuk ke industri bakery nasional karena industri bakery dalam negeri sudah memiliki spesifikasi khusus mulai dari merek hingga kualitas rasa. Produk China sulit mengikuti cita rasa Indonesia.
"Selama lima tahun mendatang, industri bakery kita akan aman. China tidak akan berani masuk ke ranah industri bakery terutama segmen kelas menengah atas, karena akan berat sekali persaingannya," tuturnya.
Di segmen ritel modern, China juga akan sulit bersaing. Sebab segmen ritel modern sudah memiliki merek sendiri untuk bakery. Jadi, itu akan semakin menyulitkan China untuk memasukkan produknya.
( Fani Ayudea / CN34 / JBSM )