
Kudus, CyberNews. Salah satu kegagalan kabupaten Kudus mendapatkan Adipura tahun ini, disebabkan karena belum semua komponen kemasyarakatan disentuh dan dilibatkan dalan kegiatan tersebut. Diakui atau tidak, keinginan untuk mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat tersebut justru lebih mengemuka dibandingkan berbagai pembenahan mendasar yang sebetulnya lebih diinginkan masyarakat.
Pemerhati sosial kemasyarakatan Kota Kretek, Basuki Sugita, mengemukakan hal itu, Kamis (9/6). Ditambahkannya, sebenarnya banyak pekerjaan rumah yang hingga saat ini belum terselesaikan dengan baik. "Persoalan kebersihan, ketertiban dan tata kota dapat dengan mudah dilihat," katanya.
Pihaknya justru menilai agak aneh bila tahun ini Kudus memperoleh Adipura. Salah satu pertimbangannya, pada sejumlah ruas jalan masih rusak berat. "Kondisi itu hampir merata di semua kawasan," tandasnya.
Ditambahkannya, keberhasilan tersebut juga tidak hanya tergantung dari salah satu pihak saja. Menurutnya, bila semua kebutuhan mendasar publik terkait kebersihan dan ketertiban umum dapat dipenuhi, secara otomatis hal tersebut akan tercapai juga.
Sentuh Akar Persoalan
Ketua Telaah Aksi untuk Penyelamatan Alam dan Kebudayaan (Tapak), Agus Sunarto menyatakan, hal yang dilakukan sebelumnya belum menyentuh akar persoalan yang ada. Bila hanya mengecat trotoar maupun perbaikan di sana-sini tanpa penyelesaian secara komprehensif, dipastikan juga tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal.
"Padahal, solusi terhadap akar persoalan seperti itu yang harus dilaksanakan dan bukan hanya sesuatu yang sifatnya sesaat saja," paparnya.
( Anton WH / CN31 / JBSM )