
Jakarta, CyberNews. Pemerintah menandaskan target lifting (produksi siap jual) minyak sebesar 970 ribu barel per hari (bph) tidak bisa tercapai. Lifting diperkirakan hanya bisa menyentuh maksimal 950 ribu bph.
"Sudah diperhitungkan anggaran itu kan (target produksi minyak) 970 ribu bph, tetapi ternyata selama Januari-Maret ini realisasinya di bawah 900 ribu bph jadi mungkin setahun akan seperti yang dikatakan BP migas, kira-kira akan ada di kisaran 950 ribu paling tinggi," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat (27/5).
Menkeu menambahkan akibat tidak tercapainya lifting, maka berdampak pada defisit APBN 2011 yang dipatok sebesar 1,8% terhadap PDB atau Rp 124,7 triliun. Menurutnya, defisit hingga akhir tahun bisa bengkak hingga Rp 16 triliun akibat tidak tercapainya lifting dan membengkaknya realisasi subsidi BBM. "Tambahan ini semua akan di-review awal Juli saat RAPBNP 2011," tambah Agus.
Dia bahkan mengatakan potensi membengkaknya subsidi bisa melebihi Rp 16 triliun. Pasalnya, faktor yang membuat defisit bertambah adalah adanya tambahan anggaran karena ketentuan Undang-undang APBN yang mewajibkan anggaran pendidikan mencapai 20 persen.
"Tetapi kan ada faktor-faktor lain termasuk tambahan ini semua akan direview awal juli saat APBN Perubahan. Artinya, bisa terjadi, bisa lebih besar," ujarnya.
Namun demikian, lanjut Agus Marto, pihaknya tetap berupaya untuk menjaga defisit tetap berada pada kisaran 2 persen. "Sebetulnya target yang kita ingin capai adalah di kisaran 2 persen kita kan tahu bahwa selama 5 tahun terakhir realisasi dari anggaran kan di kisaran 90 persen jadi walaupun nanti kita secara postur APBN-nya defisit 2 persen realisasinya kita harapkan ada di kisaran 2 persen," ungkap menkeu.
( Kartika Runiasari / CN26 / JBSM )