
(SM CyberNews/ Leonardo Agung B)
Semarang, CyberNews. Proses penggarapan film yang mengangkat karya Buya HAMKA berjudul 'Di Bawah Lindungan Kabah' (DBLK) produksi MD Pictures mulai dilakukan di kawasan Kota Lama Semarang. Setelah selesai mengambil syuting di Stasiun Kereta Ambarawa, Senin (9/5), sejumlah pekerja film mulai terlihat sibuk menyiapkan setting lokasi di tiga titik kawasan Kota Lama untuk mendapatkan dan membuat visual lorong Mekah, pasar tradisional dan juga Sekolah Tawalib tempat salah satu tokoh di DBLK.
Art Director Film DBLK, Allan Sebastian saat ditemui di lokasi penggarapan setting mengatakan, rencananya lokasi syuting pertama di Semarang akan dilakukan besok (hari ini-red) di gedung PTPN yang kosong yang diubah sebagai tempat sekolah tokoh Hamid (Herjunot Ali) selama sehari. Setelah itu esok harinya, syuting dilanjutkan di lokasi pasar ayam yang diubah seperti lorong Mekah selama dua hari dan terakhir di sekitar Jalan Garuda yang di setting sebagai pasar selama sehari.
''Kami sudah menyiapkan setting film di tiga lokasi tersebut sekitar tiga hari yang lalu. Tantangan terbesar dalam mensetting tempat itu adalah bagaimana mendapatkan visual suasana seperti tahun 1920-an,'' ujar Allan.
Diungkapkannya, untuk mewujudkan hal itu dia mendekorasi ulang tiang lampu khas Semarang di lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pasar. Caranya dengan membungkus tiang lampu tersebut dengan kayu triplek yang sudah dibentuk menyerupai tugu lampu seperti yang ada di Padang, lengkap dengan lapisan batu belah.
Dia juga melapisi jalan paving dengan pasir untuk mendapatkan suasana tradisional pasar tahun 1920-an. Tidak hanya itu, berbagai properti dari hasil hunting di berbagai kota seperti Padang, Jakarta, Yogyakarta dan Semarang juga telah disiapkan untuk mendukung proses penggarapan film arahan sutradara Hanny R Saputra ini.
''Untuk properti dokar atau pedati kami dapatkan dari Kota Padang. Ini dilakukan karena kami harus hati-hati dalam memilih bahan atau properti,'' katanya.
Film DBLK sendiri bercerita tentang kekuatan cinta, berpadu dengan kekentalan adat budaya dan berjalan di dalam koridor agama. Dalam penggarapannya, film ini melibatkan artis-artis senior seperti Didi Petet, Yenny Rachman, Widyawati dan Leroy Osmani. Dengan mengambil setting budaya dan adat istiadat Minangkabau tahun 1920-an, film yang diharapkan bisa mengingatkan kembali visi HAMKA tentang agama Islam, cinta dan adat istiadat juga melibatkan artis-artis muda berbakat seperti Laudya Cynthia Bella, Herjunot Ali, Niken Anjani, Tara Budiman dan Agung Putra Perwira.
( Leonardo Agung / CN27 / JBSM )