
Semarang, CyyberNews. Meskipun memasuki panen, para petani ketela tidak menampakkan kegembiaraan. Harga ketela di tingkat petani stabil pada kisaran Rp 500/kg belum dikupas dan Rp 600/kg setelah dikupas.
Cuaca yang tidak menentu selama setahun tidak membawa pengaruh terhadap harga komoditas pertanian ini. Pasalnya meskipun panen berhasil, uang yang didapat tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
"Harga ketela tak pernah terpengaruh cuaca, untung tidak kalau rugi jelas iya," ujar Sarmin (54) petani di Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Rabu (6/4). Meski penanganan tanaman ini tidak membutuhkan biaya banyak, lanjut dia, hasil penjualan habis setelah dikurangi ongkos membeli pupuk dan biaya membayar tenaga saat tanam.
Kunardi (35) pedagang ketela asal Trangkil, Pati mengatakan harga ketela tidak pernah naik dan turun. Untuk tingkat petani, dia hanya mematok harga paling tinggi Rp 500 per kg. Sebab, harga ketela di pasaran hanya Rp 650 hingga Rp 1.200 per kg.
Jika ia membeli dengan harga tinggi, dipastikan merugi. "Itu kalau sudah dikurangi biaya tenaga dan transportasi, sudah sulit menghitung keuntungannya," ujar pria yang mampu membeli 5 ton ketela per hari saat ditemui di Jl Puntan Raya, Mangunsari.
Dalam menentukan harga ketela, dia menyesuaikan dengan harga pasaran. Jika harga tinggi, ia berani membeli dengan harga tinggi. Ketela yang ia beli langsung dari petani itu dijual kembali ke pabrik tepung tapioka di Kabupaten Pati.
"Kebutuhan akan ketela di wilayah kami berkurang, tiap hari harus keluar daerah," pungkas bapak dua anak itu.
( Muhammad Syukron / CN14 / JBSM )