
DITOLAK WARGA: Mobil yang ditumpangi tim Amdal dari PT MAT Semarang dipaksa warga keluar dari Desa Ngawen, Kecamatan Tambakromo, Pati, Sabtu (26/3). (SM CyberNews/ Moch Noor Efendi)
Pati, CyberNews. Tim analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) yang hendak mengawali tugasnya diusir warga Desa Karangawen, Kecamatan Tambakromo, Sabtu (26/3). Ratusan warga setempat menggeruduk lima orang yang tergabung dalam tim tersebut saat wawancara dengan satu keluarga di daerah itu.
Sedianya rombongan konsultan dari PT Mitra Adi Pranata (MAT) Semarang yang dipimpin Poerna Sri Oetari itu, akan mewawancara dua keluarga, yakni H Nyamin (55) dan Suwarni (31), warga RT 2 RW 1. Namun, baru beberapa saat bertamu di kediaman Suwarni, mereka dipaksa keluar desa saat itu juga oleh ratusan warga.
Melihat massa yang begitu banyak dan berteriak-teriak, rombongan yang datang pukul 13.30 WIB terpaksa memenuhi keinginan warga dan pergi 10 menit setelah bertamu. Sebagian besar warga yang mengusir mengenakan atribut penolakan pabrik semen.
Warga setempat Suwarti mengatakan, lima orang dari Semarang itu mengaku konsultan PT SMS yang datang ke desanya untuk membantu menyusun Amdal tentang rencana pembangunan pabrik semen. Mereka ingin mengetahui pendapat warga tentang rencana tersebut.
"Baru beberapa menit bicara tiba-tiba massa berdatangan, saya jadi gemetar," ujar wanita berjilbab itu yang turut menemani keluarga Suwarni menemui tim Amdal.
Menurutnya, kedatangan ratusan massa tidak terencana, tetapi berlangsung spontan. Dirinya pun mengaku tidak mengetahui mereka akan mengusir tamu tersebut. "Sejak awal ada kabar di sini akan dibangun pabrik semen, memang sebagian besar warga menolak. Karena pembangunan itu dikhawatirkan merusak lingkungan," katanya.
Warga lainnya, Mardi Utomo mengaku, mayoritas warga yang menggantungkan hidupnya pada pertanian tidak sepakat jika kawasan Pegunungan Kendeng Utara ditambang secara besar-besaran. Dia memperkirakan jika pembangunan itu terwujud maka sumber air akan hilang.
"Selama ini sumber air di sini bukan hanya untuk dikonsumsi tetapi dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan usaha perikanan. Jadi kalau pegunungan ditambang maka sumber air akan hilang dan kami dan anak cucu yang akan menjadi korban," jelasnya.
Selain dianggap berpotensi merusak lingkungan, rencana pembangunan pabrik semen oleh PT SMS yang sebagian besar sahamnya dimiliki PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk, pabrikan produk semen Tiga Roda dipandang tidak fair. Sosialisasi hanya dilakukan kepada golongan kecil warga yang selama ini mendukung rencana investasi Rp 5 triliun itu.
( Moch Noor Efendi / CN27 / JBSM )