
Semarang, CyberNews. Peluang ekspor produk holtikultura Jateng masih terbuka lebar di Singapura. Hal itu terlihat dari buah dan sayuran yang sudah dijajakan di pasar-pasar tradisional dan mal disana. "Peluang ini membuktikan bahwa kita memiliki potensi yang berkualitas baik. Saya berharap agar potensi ini bisa dipahami dan dikelola baik," ujar Gubernur Bibit Waluyo usai menerima kunjungan balasan Agri Food Veterinary Authority (AVA), otoritas bidang pangan dan holtikultura Singapura, di rumah dinas gubernur Puri Gedeh.
Rombongan tersebut dipimpin CEO AVA Tan Poh Hong, dan didampingi sekitar 25 orang importir holtikultura Singapura. Gubernur mengingatkan pada kelompok tani terbukanya peluang ekspor itu agar segera ditindaklanjuti. Dengan menjaga kuantitas pasokan, kualitas dan kontinyuitas produk. Bicara masalah harga, Gubernur menyebutkan sangat bagus. Petai misalnya, berat 200 gram harganya mencapai Rp 70 ribu.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah, Aris Budiono menambahkan, beberapa komoditi yang sudah masuk ke pasar Singapura sudah sesuai standar ekspor. Diantaranya yang sudah dilihat dari kunjungan Gubernur bulan lalu adalah salak, melon, lobak, buncis dan petai. Mengenai harga yang ditawarkan, itu tergantung kualitas. Adapun kerjasama yang ditawarkan mereka nantinya model kemitraan. "Eksportir yang memasukkan produk ke Singapura akan mendampingi petani kita dan petugas Dinas Pertanian. Pertama mereka diberi percontohan dulu, bagaimana cara menanam yang baik," paparnya.
Dalam kesempatan itu, CEO AVA Tan Poh Hong menyatakan tertarik bekerjasama setelah mengunjungi beberapa tempat sentra holtikultura. Diantaranya Getasan, Banjarnegara, Wonosobo dan Sumowono. Tan menilai, sistem pertanian yang dikembangkan di daerah tersebut sudah tepat. Yang perlu diperhatikan lagi, imbuh Tan, adalah kelangsungan kuantitas dan kuantitas produk.
( Hartatik / CN14 / JBSM )