
Bali, CyberNews. Menjelang perayaan Nyepi di Bali, muncul Ogoh-ogoh berwujud mirip dengan sosok Gayus. Ogoh-ogoh karya seorang warga Komang Tanaya itu menuai kontroversi. Pasalnya, dianggap tidak mendidik dan jauh dari konteks nyepi.
Ogoh-ogoh yang sedianya akan diarak keliling desa sehari menjelang Nyepi ini akhirnya tak jadi menyemarakkan malam pengerupukan. Diakatakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ida Bagus Wiana, ogoh-ogoh tersebut tidak mewujudkan sifat bhuta.
"Ogoh-ogoh jangan mempersonifikasikan orang. Itu tidak mewujudkan bhuta. Ogoh-ogoh Gayus ini dilarang, karena tidak ada unsur buta (raksasa-red)," kata Ida Bagus pada jumpa pers di kantor Gubernur Bali, Jl Basuki Rahmat, Denpasar, Selasa (1/3).
Ogoh-ogoh ini berkaca mata dan memakai wig ala Gayus dengan kedua tanganya memegang puluhan lembar uang. Wiana menjelaskan awal kemunculannya, ogoh-ogoh tidak ada kaitannya dengan Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh yang berwujud raksasa adalah bentuk kretivitas masyarakat Bali. Namun, seriing waktu, dimasukkan aturan sehingga ogoh-ogoh menjadi bagian dari ritual Nyepi.
Ogoh-ogoh berwujud bhuta kala (sifat raksasa) diarak keliling desa pada saat malam pengerupukan, atau sehari menjelang Nyepi. Usai diarak keliling desa, ogoh-ogoh dimusnahkan atau dibakar.
( dtc / CN27 / JBSM )