panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
23 Januari 2011 | 14:59 wib
1.193 Perkara Diputus Selama 2010
2010, Perceraian di Wonosobo Mencapai 2.206 Kasus

 

Wonosobo, CyberNews. Kasus perceraian di Wonosobo selama 2010 lalu cukup tinggi. Selama setahun, jumlah perkara cerai yang diterima Pengadilan Agama Kelas I A Wonosobo mencapai 2.206.

Rinciannya, 855 kasus adalah cerai talak atau perkara cerai yang diajukan pihak laki-laki. Sedangkan cerai gugat atau perkara cerai yang diajukan pihak perempuan sebanyak 1.351 kasus.

Dari jumlah itu, kasus yang diputus selama 2010 sebanyak 1.944 perkara. Terdiri dari kasus cerai talak 751 perkara dan cerai gugat 1.193 perkara.  Wakil Ketua PA Kelas I A Syaifuddin Zuhry mengakui, angka perceraian di kabupaten berslogan Asri itu cukup tinggi.

Bahkan, Wonosobo biasanya berada di peringkat lima besar tertinggi kasus perceraian di Jateng.  "Tapi untuk 2010 lalu, kami belum tahu Wonosobo di peringkat mana. Masih menunggu informasi dari Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Semarang. Yang jelas, jika melihat jumlah perkara yang diterima dan diputus selama 2010, kasus cerai di Wonosobo masih tinggi," jelasnya, Minggu (23/1).

Dibandingkan 2009, jumlah kasus cerai yang diterima PA Wonosobo pada 2010 meningkat. Tahun 2009, perkara cerai yang diterima sebanyak 2.143 kasus, dengan rincian 871 kasus cerai talak dan 1.272 kasus cerai gugat. Sedangkan perkara cerai yang diputus pada 2009 sebanyak 1.877 kasus, dengan rincian 772 kasus cerai talak dan 1.105 kasus cerai gugat.

Dua penyebab utama perceraian di kabupaten di kaki gunung Sindoro-Sumbing adalah salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya, serta masalah ekonomi. "Dari perkara yang masuk, rata-rata penyebabnya itu. Ada juga faktor lain, seperti poligami, kondisi tidak sehat, dan sebagainya. Tapi yang paling banyak karena salah satu pihak, baik istri atau suami tidak melaksanakan kewajibannya, serta karena faktor ekonomi," tuturnya.

Dijelaskannya, dalam menangani kasus perceraian, PA selalu melakukan mediasi sebagai upaya mempersatukan kembali pasangan yang hendak berpisah. "Dalam agama, perceraian memang boleh dilakukan, tapi tidak disukai Allah. Karena itu, dalam persidangan, mediasi dilakukan agar pasangan yang berniat cerai bisa disatukan lagi. Bahkan bagi PA, mediasi wajib dilakukan. Jika tidak dilakukan mediasi, perkaranya batal demi hukum," katanya.

( Irfan Salafudin / CN27 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 36049
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 37262
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 37736
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 41912
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 36909
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER